Garut Fokus Tangani Covid-19 pada Sebaran Zona Lebih Kecil

Garut Fokus Tangani Covid-19 pada Sebaran Zona Lebih Kecil
Foto: Zainulmukhtar

INILAH, Garut - Menangani Covid-19, Kabupaten Garut kini memokuskan perhatian pada klaster penyebaran pada zona kawasan/dusun/kampung yang lebih kecil dari zona kecamatan.

Padahal, sebelumnya penanganan Covid-19 dilakukan merujuk pada pemetaan levelisasi kewaspadaan Covid-19 per kecamatan yang disimbolkan dengan level merah, kuning, biru hingga hijau.

Per 24 April sampai 5 Juni 2020, ada enam dari 42 kecamatan di Kabupaten Garut masuk level merah. Yakni Kecamatan Selaawi, Banyuresmi, Kadungora, Leuwigoong, Tarogong Kaler, dan Kecamatan Garut Kota.

Ada delapan kecamatan masuk level kuning, yakni Kecamatan Cigedug, Cisurupan, Wanaraja, Cikajang, Cibatu, Tarogong Kidul, Cibalong, dan Kecamatan Malangbong
ada enam kecamatan di level biru, yakni Kecamatan Karangpawitan, Kersamanah, Samarang, Bayongbong, Cilawu, dan Leles. Sedangkan 22 kecamatan lainnya berada pada level hijau.

Menurut Humas Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Garut Yeni Yunita, berdasarkan keterangan hasil pembahasan Gugus Tugas Covid-19 Garut diperolehnya dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Garut, sekarang tak bisa lagi berbicara level kecamatan karena pola penyebaran virus di Garut sudah membentuk klaster atau zona.

"Sampai saat ini, pemeriksaan swab atau PCR kita masih sangat sedikit sehingga belum bisa memberikan gambaran secara tepat. Jadi, kita tetap mengikuti arahan Provinsi Jawa Barat bahwa Garut itu kuning untuk beberapa wilayah yang konfirm positif. Ini keterangan dari Bappeda," ujarnya.

Sementara itu, Pelaksana Teknis Kepala Bappeda Garut Agus Ismail membenarkan penanganan Covid-19 di Kabupaten Garut lebih memokuskan pada penanganan zona lebih kecil yaitu zona kawasan/kampung/dusun berdasarkan klaster penyebarannya.

Penentuan klaster sendiri diawali data konfirmasi positif Covid-19, terutama yang sudah terjadi transmisi lokal, dan klaster-klaster memiliki resiko penyebaran tinggi.

Lantaran hal itu, dia menyebutkan Garut terus berupaya memperbanyak tes Covid-19 supaya dapat segera memetakan pola sebaran virus.

"Inti dari penanganan Covid-19 adalah pada pemeriksaan swab/PCR serta kepatuhan masyarakat pada protokol kesehatan," katanya, Kamis (18/6/2020).

Sayangnya, pelaksanaan tes atau tepatnya pengambilan swab tes Covid-19 di Garut hingga kini masih relatif kecil. Padahal, tes Covid-19 tersebut sangat penting sebagai bahan analisis agar dapat diperoleh pemetaan pola sebaran virus secara jelas.

"Intinya hal itu ada di partisipasi seluruh masyarkat. Sehebat apapun program pemerintah tanpa ada partisipasi masyarakat, tidak ada hasilnya. Kita bersyukur sekarang sudah ada alat PCR di RSUD dr Slamet Garut, meskipun masih terbatas," ujarnya.

Tes Covid-19 pengambilan sampel swab di Kecamatan Selaawi yang merupakan terbanyak kasus positif Covid-19 pun meleset dari target 1.600 orang lebih. Hingga 17 Juni 2020, di kecamatan tersebut baru sebanyak 861 orang berhasil diambil sampel swab-nya. Itu pun dalam dua tahap. Pada 11 Juni 2020, sebanyak 358 mengikuti skrining/PCR, dan pada 16 Juni 2020 diikuti sebanyak 503 orang.

Hingga 17 Juni 2020 pukul 19.00 WIB, Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Garut mencatat total kasus Covid-19 di Garut mencapai sebanyak 4.596 kasus dengan 32 kasus kematian. Hal itu terdiri 1.809 OTG, 2.687 ODP, 75 PDP, dan 25 positif COvid-19. (Zainulmukhtar)