Terapkan Protokol Kesehatan, Pariwisata Kabupaten Bogor Bersiap Menyambut Wisatawan

Terapkan Protokol Kesehatan, Pariwisata Kabupaten Bogor Bersiap Menyambut Wisatawan

INILAH, Bogor - Memasuki pembatasan sosial berskala besar (PSBB) proporsional dan adaptasi kebiasaan baru (AKB), industri pariwisata di Bumi Tegar Beriman terus melakukan persiapan dan sejumlah inovasi dalam menerapkan protokol kesehatan.

Salah satu inovasi tersebut ada di lapangan golf, yaitu penerapan protokol kesehatan dimana satu unit mobil golf hanya diperuntukkan satu orang pemain golf.

"Jika terpaksa dengan sopir, pasti ada penyekat antara sopir dan pemain golf. Lalu juga ada protokol kesehatan lainnya seperti wajib menggunakan masker meskipun sedang bermain golf," ujar Ketua Tim Pemulihan Pariwisata Kabupaten Bogor Zainal Syafrudin kepada wartawan, Kamis (18/6/2020).

Dia menambahkan, para pelaku usaha parawisata di Bumi Tegar Beriman sepakat ingin kembali kepada kehidupan kepariwisataan yang baik sesuai dengan tatanan PSBB proporsional atau AKB.

“Setelah berdiam diri selama 3 bulan, kami ingin pariwisata di Kabupaten Bogor ini kembali berkegiatan di tengah kondisi AKB. Oleh karenanya beberapa hari yang lalu kami bersama Pemkab Bogor sepakat bahwa pelaksanaan protokol kesehatan wajib dilakukan dan harus ada inovasi. Alhamdulillah Bupati Bogor Ade Yasin sudah melihat apa saja yang sudah kami persiapkan untuk menyambut keadaan AKB”, tambahnya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bogor Muliadi menuturkan selain wisata olahraga golf, destinasi wisata yang sudah siap menyambut wisatawan adalah Taman Safari Indonesia (TSI) Cisarua.

"TSI Cisarua kami anggap sudah sangat siap melaksanakan protokol kesehatan, dari mulai pintu gerbang sampai ke lokasi-lokasi yang akan dibuka. Pertama mereka melakukan simulasi-simulasi dan sudah diajukan secara tertulis dalam bentuk proposal. Kemudian selama seminggu kami lakukan evaluasi dan mereka tidak henti-hentinya melakukan simulasi agar lebih membiasakan keadaan AKB ini," tutur Muliadi.

Ia menjelaskan kebiasaan AKB tersebut meliputi penggunaan alat pelindung diri (APD) berupa face shield, masker, lalu ada pemeriksaan bagi setiap kendaraan yang masuk dengan pengukur suhu tubuh ada hand sanitizer di beberapa titik. Kemudian untuk hotel dan restoran, hampir seluruhnya yang kami monitor selama satu minggu rata-rata sudah siap. Bahkan Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya Provinsi Jawa Barat Dedi Taofik ikut melaksanakan monitoring dan hanya memberikan beberapa saran seperti restoran dan hotel bisa menyediakan minuman jahe untuk memelihara stamina dan  bisa menjaga daya tahan tubuh.

“Insya Allah semua hasil dari monitoring dan evaluasi akan kita bawa ke Gugus Tugas Covid-19, dimana setiap pelaku usaha pariwisata yang akan membuka kembali tempat wisatanya wajib menerapkan protokol kesehatan sesuai dengan Perbup no.35 tahun 2020 tentang Covid 19," jelasnya.

Direktur Pengembangan Destinasi Regional II Kemenetrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wawan Gunawan memaparkan saat ini kita harus betul-betul menggunakan perhitungan yang matang dan tidak boleh tergesa-gesa untuk membuka destinasi wisata.

"Protokol kesehatan berikut inovasi harus kita sama-sama meyakini bahwa AKB tersebut bida menjadi tuntutan dalam beroperasinya kembali sejumlah objek wisata baik alam maupun nonalam," papar Wawan.

Ia melanjutkan bahwa saat ini kita ada pada fase pemulihan berupa revitalisasi khususnya di sektor wisata, mungkin kedepannya ada tahap berikutnya yakni normalisasi.

"Kepada wisatawan kami pun menghimbau untuk memilih objek wisata yang telah menerapkan protokol kesehatan demi kesehatan dan keamanan diri maupun keluarganya," lanjutnya. (Reza Zurifwan)