Indonesia-Thailand Jajaki Studi Banding Pembangunan Desa

Indonesia-Thailand Jajaki Studi Banding Pembangunan Desa
Ilustrasi

INILAH, Jakarta - Indonesia dan Thailand berencana melakukan studi banding program pembangunan desa di kedua negara.

Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Eko Putro Sandjojo mengatakan, Thailand memiliki program unggulan ‘One Tambon, One Product’ yang mirip dengan Produk Unggulan Kawasan Perdesaan (Prukades).

Eko menjelaskan, dengan adanya studi banding ke desa-desa di Thailand diharapkan akan semakin menambah referensi bagi kepala desa dalam melakukan pembangunan.

Rencana studi banding tersebut adalah upaya dalam menindaklanjuti arahan Presiden RI Joko Widodo untuk meningkatkan kapasitas kepala desa dengan mempelajari pembangunan desa di negara lain.

“Presiden Joko Widodo ingin agar kepala desa dapat belajar dan melihat pembangunan desa di negara lain,” kata Eko usai menerima Duta Besar Thailand untuk Indonesia, Songphol Sukchan, di kantor Kemendes PDTT, Jakarta, Kamis malam (24/1/2019).

Tak hanya Thailand, Kemendes PDTT juga telah mendiskusikan peluang kolaborasi dalam rencana studi banding terkait pembangunan desa dengan sejumlah duta besar negara sahabat lain, di antaranya Korea, Cina, Malaysia dan Vietnam.

"Kami ingin belajar dari Thailand utamanya program pertanian untuk mendukung Prukades," ungkapnya.

Sementara Songphol menawarkan Kemendes PDTT untuk bekerja sama dengan Thailand International Cooperation Agency (TICA). Menurutnya, TICA memiliki memiliki sejumlah program peningkatan kapasitas yakni dengan kursus singkat, beasiswa pasca sarjana, dan studi banding.

"Program studi banding ini bisa digunakan bagi kepala desa yang ingin belajar dan melihat pembangunan desa di Thailand secara langsung," ujar Songphol. 

Baik Indonesia dan Thailand bersepakat untuk menindaklanjutinya dengan membicarakannya dengan lebih detil hingga teknis antar dua instansi, yakni Kemendes PDTT dan Kedutaan Besar Thailand untuk Indonesia.

Untuk diketahui, pemerintah Indonesia telah menyalurkan dana langsung ke desa-desa secara rutin setiap tahun.

Adapun besaran anggaran yang disalurkan mengalami kenaikan dari tahun ke tahun yakni Rp20,67 triliun pada tahun 2015, Rp46,98 triliun pada tahun 2016, Rp60 triliun pada tahun 2017, dan Rp60 triliun pada tahun 2018 kemarin.

Penyaluran dana desa memberikan pengaruh yang cukup signifikan terhadap penurunan angka kemiskinan di desa. Selain itu, dana desa juga telah memberikan kontribusi terhadap penurunan angka stunting dan mampu meningkatkan pendapatan masyarakat desa. (daulat/sur)