Saatnya Komunitas Berperan Kurangi Risiko Dampak Covid-19

Saatnya Komunitas Berperan Kurangi Risiko Dampak Covid-19

INILAH, Garut- Masih terus bertambahnya kasus Covid-19 dan berkurangnya zona hijau Covid-19 di Indonesia menuntut masyarakat tetap waspada. 

Dalam situasi dan kondisi seperti itu, mau tak mau upaya pencegahan risiko penyebaran Covid-19 kini tak bisa dielakkan bertumpu pada peran komunitas di masyarakat.

Hal itu mengemuka pada Diskusi Virtual Covid-19 Talk "Saatnya Komunitas Terlibat dalam Pengurangan Risiko Bencana Covid-19” diikuti unsur Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BPNPB), Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Muhammadiyah Covid-19 Command Center 9MCC) Jawa Tengah, dan MCCC Bengkulu, seperti dilansir Tim Media MCCC PP Muhammadiyah Budi Santoso, Kamis (18/6/2020).

Menurut Deputi Bidang Pencegahan BNPB Lillik Kurniawan, pukulan (dampak) diberikan Covid-19 itu terus menerus hingga mengganggu berjalannya kehidupan masyarakat secara utuh. Terlebih, tepat dua pekan lalu, jumlah wilayah zona hijau masih seputar 102 kabupaten di seluruh Indonesia namun kini dinyatakan berkurang hingga 82 kabupaten. 

"Ini menunjukkan masyarakat Indonesia semakin dekat dengan risiko penyebaran Covid-19. Maka dari itu, pencegahan berbasis komunitas menjadi penting, terutama dalam hal kesadaran akan risiko itu sendiri," ingatnya. 

Senada dikemukakan Divisi Penanggulangan Risiko Bencana dan Kesiapsiagaan MDMC PP Muhammadiyah Wahyu Heniwati. Dia menilai komunitas sendiri sejatinya berasal dari masyarakat. Sehingga komunitas merupakan garda terdepan mencegah risiko Covid-19.

"Komunitas akan tergerak jika di dalamnya terorganisir. Sehingga perlu ada dorongan terhadap masyarakat untuk mengenali secara penuh, bagaimana risiko Covid-19 yang ada di lingkungan mereka dan bagaimana pencegahannya," ingatnya.

Perwakilan MCCC Jawa Tengah Naibul Umam Eko Sakti mengatakan, upaya dilakukan komunitas yaitu relawan dalam menanggapi soal risiko penyebaran Covid-19 itu dengan melakukan pendampingan secara massif terhadap masyarakat. Pendampingan dimulai dari penyemprotan desinfektan tempat ibadah secara rutin, sosialisasi secara daring, dan mobil keliling hingga pengelolaan zakat mal bagi jama'ah masjid.

Langkah tersebut juga dilakukan relawan MCCC seperti dikemukakan Perwakilan MCCC Bengkulu Agus Widianto. Sosialisasi pun terus dilakukan dengan menggandeng Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM)-Wati setempat.

"Saat ini, masyarakat di pasar menjadi fokus kita dalam upaya pencegahan risiko penyebaran Covid-19," ujarnya. 

Dia pun sempat menyesalkan sikap masyarakat di daerahnya yang terkesan cenderung abai akan bahayanya Covid-19. Banyak pedagang maupun pembeli nekat tak lagi menggunakan masker. Ketersediaan sabun cuci tangan pun belum memadai.

"Sepertinya sekarang, ya, sudahlah ! Ada Covid-19 atau enggak. Enggak kelihatan juga,” ujarnya.

Agus menyebutkan, temuan di pasar tradisional tersebut akan dijadikan sebagai bahan analisis untuk memetakan mitra pasar untuk kemudikan dilakukan komunikasi antarpengelola pasar dan pedagang guna mencapai rumusan pasar aman Covid-19. 

Agus menilai upaya pencegahan risiko penyebaran Covid-19 skala komunitas akan efektif namun mesti dilakukan secara bertahap dan berulang melalui sosialisasi dan edukasi terhadap masyarakat. Hal itu karena protokol kesehatan yang mesti dilaksanakan beriringan dengan kebutuhan hidup masyarakat yang harus dipenuhi.(zainulmukhtar)