Jangan Salah! Ini Arti OTG Covid-19 yang Sebenarnya

Jangan Salah! Ini Arti OTG Covid-19 yang Sebenarnya
Ilustrasi/Antara Foto

INILAH, Bandung - Pandemi Covid-19 baru pertama kali terjadi, dan tak ada yang pernah menghadapi sebelumnya. Tak heran masih banyak yang belum paham tentang istilah-istilah baru berkaitan dengan pandemi. Salah satunya orang tanpa gejala (OTG).

Kepala Seksi Surveilans dan Imuniasi Dinas Kesehatan Kota Bandung, Girindra Wardhana menjelaskan, OTG bukanlah orang yang positif terjangkit virus SARS Cov-2 atau virus corona yang tidak menunjukkan gejala penyakit apapun. Istilah OTG diberikan kepada orang yang berkontak erat dengan pasien positif.

“Banyak orang yang salah paham, sebetulnya OTG itu orang yang berkontak erat dengan pasien positif. Jadi dia belum tentu positif,” kata Girindra di Balai Kota, Jalan Wastukancana, Kota Bandung pada Kamis (18/6/2020).

Dijelaskan dia, OTG adalah istilah yang diperkenalkan pada pedoman revisi empat yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan. Pedoman tersebut menyebutkan, OTG adalah orang yang tidak bergejala dan memiliki risiko tertular dari orang positif Covid-19. Orang tanpa gejala merupakan kontak erat dengan kasus positif Covid-19.

“Memang istilah OTG itu muncul di revisi empat. Sebelumnya (istilah) OTG itu enggak ada. Jadi ternyata ada kasus konfirmasi positif ternyata kontak eratnya, ketika dicek hasilnya bisa meningkat menjadi kasus positif meskipun dia tanpa gejala,” ucapnya.

Definisi OTG, sambung dia jelas berbeda dengan tiga kategori khalayak Covid-19 lainnya, yakni orang dalam pematauan (ODP), pasien dalam pengawasan (PDP), dan pasien positif. Ketiganya memiliki indikator medis yang harus diperhatikan.

“Kalau ODP di pedoman revisi empat Kementerian Kesehatan ada gejala salah satunya batuk pilek, kemudian ada riwayat perjalanan ke wilayah transmisi lokal. Lalu ada perubahan kesehatan yang khas. Itu hanya dari pihak klinis yang bisa menilai itu,” ujar dia.

Sementara itu ditambahkan dia, PDP adalah orang dengan infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) dan dalam 14 hari terakhir sebelum timbul gejala memiliki riwayat kontak dengan kasus konfirmasi atau probabel Covid-19.

“Kalau PDP tadi dia sudah hadir ke rumah sakit. Apalagi PDP berat dengan kumpulan gejala tadi, ditambah dengan sesak nafas. Biasanya itu dibuktikan dengan hasil rontgen dada dan sebagainya. Kalau pasien positif, artinya memang sudah terkonfirmasi melalui tes polimerase chain reaction (PCR) atau terjangkit virus corona,” tandasnya. (Yogo Triastopo)