(Sikap Kami) Tantangan Terberat Citarum

(Sikap Kami) Tantangan Terberat Citarum
Istimewa

PROGRAM Citarum Harum memberi bukti bahwa yang paling berat itu bukanlah rehabilitasi sungai. Jauh lebih berat adalah rehabilitasi mental.

Membersihkan Citarum itu perkara teknikal. Hitung-hitungannya gampang. Jika sampah masuk satu ton sehari, tapi dikeruk tiga-empat ton sehari, suatu ketika Citarum juga bersih.

Maka, sebenarnya tinggal menyiapkan sumber daya manusia (SDM) dan anggarannya. Beres. Itu sebabnya, Gugus Tugas Citarum Harum bisa memasang target-target yang rigid. Setelah sekian tahun tingkat pencemarannya akan masuk ke level tertentu.

Bahkan, melampaui target-target tersebut pun bukanlah hal yang mustahil. Terbukti, saat ini tingkat pencemarannya sudah masuk cemar ringan. Padahal, target awalnya adalah ringan sedang.

Lalu, apa yang berat? Paling berat itu adalah mengubah kebiasaan masyarakat. Kebiasaan, bukan budaya. Kita paham, budaya orang di sekitaran Citarum adalah budaya yang suka bersih-bersih. Budaya konteksnya adalah kebaikan.

Tapi, kebiasaan –yang bisa disulut berbagai faktor—terbukti menjadi salah satu yang sulit diatasi dalam program rehabilitasi Citarum. Satgas bisa menyeret pelaku-pelaku usaha besar, pemilik pabrik yang sering membuang limbah sembarangan, ke jalur hukum dan mengadilinya.

Beberapa perusahaan bahkan sudah dinyatakan bersalah oleh pengadilan. Dihukum denda dalam angka yang cukup besar. Sudah ada perbaikan di subsektor itu.

Tapi, mengubah kebiasaan masyarakat? Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil pun mengakui limbah yang kini masih sulit diatasi adalah limbah domestik. Sampah-sampah yang berasal dari warga, terutama di pinggiran Citarum.

Tidak gampang karena sudah menjadi kebiasaan yang begitu mudah dilakukan bertahun-tahun. Punya sampah, tinggal buang ke Citarum. Selesai. Bukankah tetangga-tetangga juga melakukan hal serupa?

Apa yang terjadi di Citarum, sejatinya juga terjadi di sungai-sungai manapun. Ciliwung di Bogor hingga Jakarta, Cisadane di Bogor hingga Tangerang. Persoalannya serupa. Yang merusak secara kasat mata adalah limbah-limbah rumah tangga.

Maka, sebenarnya agak Citarum Harum berhasil cepat, bukan hanya aksi pengangkatan sampah yang dilakukan, melainkan lebih banyak lagi sebenarnya sosialisasi kepada warga agar jangan membuang sampah sembarangan. Ini yang banyak terjadi. Ada berapa sih industri yang membuang limbah ke Citarum? Hanya seujung kuku jika dibandingkan warga yang seenaknya membuang sampah ke sungai serupa, terutama warga di sekitar wilayah sungai.

Ini yang perlu dikuatkan. Pertama agar program rehabilitasi cepat selesai. Kedua, agar setelah rehabilitasi selesai, limbah-limbah domestik masih masuk ke Citarum. Jika itu terjadi, program rehabilitasi tak ubahnya bak gali lubang tutup lubang. (*)