Twitter Rilis Notifikasi Kekerasan Berbasis Gender

Twitter Rilis Notifikasi Kekerasan Berbasis Gender
istimewa

INILAH, Jakarta - Menanggapi lonjakan kekerasan berbasis gender secara global sebagai dampak dari isolasi selama pandemi COVID-19, Twitter meluncurkan notifikasi khusus untuk kekerasan berbasis gender di tujuh negara Asia Pasifik, termasuk Indonesia.

Saat pengguna mengetik atau melakukan pencarian di 'explore' terkait kekerasan berbasis gender, akan muncul notifikasi dalam Bahasa Indonesia yang akan mengarahkan mereka ke hotline dan laman informasi yang disediakan oleh lembaga dimana mereka dapat mencari bantuan, sekaligus mendapatkan dukungan yang mereka butuhkan.

Berangkat dari layanan notifikasi Twitter untuk kesehatan mental dan pencegahan bunuh diri, vaksin, eksploitasi seksual terhadap anak, serta COVID-19; Twitter adalah perusahaan teknologi pertama yang meluncurkan notifikasi khusus terkait kekerasan berbasis gender.

LBH APIK Jakarta@LBHAPIK

Anda mengalami kekerasan dan mencari bantuan? Sekarang, kalau sahabat APIK mencari keyword terkait dengan kekerasan terhadap perempuan, Twitter akan merujuk ke kontak LBH APIK Jakarta dan @KomnasPerempuan.

Terima kasih @TwitterID !

Lihat gambar di TwitterLihat gambar di TwitterLihat gambar di TwitterLihat gambar di Twitter

692

15.35 - 27 Mei 2020

Info dan privasi Iklan Twitter

660 orang memperbincangkan tentang ini

 

 

"Twitter bangga dapat meluncurkan fitur unik ini untuk membantu mengatasi kekerasan berbasis gender, termasuk kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Kami berterima kasih atas kolaborasi dan dukungan yang telah diberikan oleh para mitra kami di Indonesia," ujar Agung Yudha, Public Policy Director, Indonesia & Malaysia, Twitter, dalam keterangan tertulisnya kepada INILAHCOM.

"Kami berharap inisiatif ini dapat membantu menjangkau audiens dari mitra kami yang membutuhkan bantuan di masa pandemik COVID-19 ini dan seterusnya," imbuhnya.

Sebagaimana telah disampaikan oleh Sekretaris Jenderal Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres bahwa karantina wilayah yang diumumkan secara global selama pandemi COVID-19 menyebabkan 'gelombang yang mengkhawatirkan' dalam kekerasan berbasis gender (KBG), memperparah ketidaksetaraan gender dengan adanya tanggung jawab untuk merawat anggota keluarga yang rentan di rumah --seperti anak-anak kecil dan/atau yang sakit atau lanjut usia-- yang cenderung menjadi peran perempuan dalam keluarga.

António Guterres@antonioguterres

Peace is not just the absence of war. Many women under lockdown for face violence where they should be safest: in their own homes.

Today I appeal for peace in homes around the world.

I urge all governments to put women’s safety first as they respond to the pandemic.

Video terlekat

9.661

08.30 - 6 Apr 2020

Info dan privasi Iklan Twitter

5.793 orang memperbincangkan tentang ini

 

 

Melalui kemitraan erat dengan UN Women Asia Pasifik yang berperan sebagai penasehat, LSM terkemuka, serta lembaga negara, yang menyediakan perawatan darurat, dukungan dan konseling; layanan ini sudah tersedia di tujuh negara; Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, Singapura, Korea Selatan, dan Vietnam.

Twitter berencana untuk memperluas layanan ini ke negara-negara lain di berbagai kawasan dalam beberapa minggu dan bulan mendatang.

'Pandemi bayangan' meningkat selama COVID-19

Menurut laporan terbaru oleh UN Women, sebanyak 243 juta perempuan dan anak perempuan berusia 15-49 tahun secara global telah mengalami kekerasan seksual dan/atau fisik yang dilakukan oleh pasangannya dalam 12 bulan terakhir.

Data yang muncul menunjukkan bahwa sejak wabah COVID-19 merebak, kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan, dan khususnya kekerasan berbasis gender, telah meningkat di seluruh dunia.

"Kekerasan pada perempuan dan anak perempuan di Asia Pasifik meluas dan kenyataannya hal tersebut banyak yang tidak dilaporkan. Secara global, satu dari tiga perempuan mengalami kekerasan setidaknya sekali seumur hidup. Faktanya, angka itu lebih besar di banyak negara di wilayah kami yaitu dua dari tiga perempuan yang melaporkan adanya kekerasan." kata Melissa Alvarado, UN Women Asia Pacific Regional Manager on Ending Violence Against Women (@unwomenasia, seraya menyebut bahwa kurang dari empat dari 10 perempuan yang mengalami kekerasan berani melaporkan atau mencari bantuan.

Menurut dia, dengan adanya perpanjangan periode lockdown serta perintah untuk tetap di rumah di beberapa negara di dunia untuk menekan penyebaran COVID-19, semakin banyak perempuan yang memiliki pasangan pelaku kekerasan merasa terisolasi dari orang dan sumber yang bisa membantu mereka.

"Di UN Women, kami mendengar bahwa untuk tetap membuka layanan bantuan menjadi hal yang sulit di beberapa negara. Kami senang bekerja sama dengan Twitter untuk membantu menghubungkan perempuan dengan layanan bantuan yang tersedia di negara mereka jika mereka mengalami kekerasan atau pelecehan," lanjut dia.

Data nasional dari India menunjukkan, bahwa kekerasan berbasis gender telah meningkat lebih dari dua kali lipat di setidaknya empat negara bagian Utara. Sementara kasus-kasus yang dilaporkan dari LSM di Indonesia mencapai tiga kali lipat.

Hotline untuk perempuan dan anak-anak di Malaysia juga melaporkan peningkatan 57 persen dalam panggilan sementara peraturan yang bertujuan mengendalikan kerisauan ini sedang berlaku. Tren yang sama juga ditemukan di Singapura dan Korea Selatan.

Bersatu menghadapi kekerasan berbasis gender

Twitter percaya, kolaborasi berbagai pihak terkait -publik, swasta dan LSM- adalah salah satu kunci untuk memerangi masalah kompleks berbasis kekerasan gender.

Kemitraan ini, melalui layanan notifikasi #ThereIsHelp, akan membantu berkontribusi pada upaya organisasi lokal untuk memastikan masyarakat dapat mengakses dan mendapatkan bantuan ketika mereka membutuhkannya.

Di Indonesia, Twitter bermitra dengan LBH APIK Jakarta (@LBHAPIK) dan Komisi Nasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan (@KomnasPerempuan) sebagai mitra nasional terpercaya.

LBH APIK Jakarta adalah organisasi nirlaba untuk lembaga bantuan hukum perempuan yang menyediakan hotline gratis dan bantuan hukum untuk perempuan dan anak-anak.

Sedangkan Komnas Perempuan adalah lembaga negara independen yang bekerja untuk melindungi hak-hak perempuan, termasuk mencegah dan mengurangi kekerasan terhadap perempuan di Indonesia.

"Sebagai Lembaga Bantuan Hukum yang fokus pada pendampingan dan bantuan hukum bagi perempuan yang mengalami ketidakadilan, kekerasan, dan berbagai bentuk diskriminasi; LBH APIK mengapresiasi kontribusi Twitter dalam menanggulangi kekerasan dan ketidakadilan khususnya bagi perempuan di Indonesia dengan meluncurkan notifikasi untuk kekerasan berbasis gender," ujar Siti Mazuma, Direktur LBH APIK Jakarta.

Menurut dia, upaya penanggulangan kekerasan terhadap perempuan dan advokasi kesetaraan hukum merupakan peran berbagai pemangku kepentingan, mulai dari tataran individu, sosial, hingga pembuat kebijakan dan penegak hukum.

"Kami harap kolaborasi dengan Twitter ini dapat membantu kami menjangkau lebih banyak orang yang memang membutuhkan bantuan atau pendampingan," dia menambahkan.

Kasus kekerasan pada perempuan di Indonesia bertambah setiap tahunnya. Berdasarkan Catatan Tahunan (CATAHU) 2020 Komnas Perempuan, kekerasan terhadap perempuan meningkat sebanyak 792% selama 12 tahun terakhir atau meningkat hampir delapan kali lipat.

Fakta ini memperkuat pentingnya edukasi kepada masyarakat bahwa kasus kekerasan masih banyak terjadi di Indonesia.

"Kolaborasi dengan Twitter ini diharapkan mempermudah informasi kepada publik dan menjadi acuan para pemangku kepentingan untuk pencegahan dan penanggulangan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan," kata Mariana Amiruddin dari Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan. (inilah.com)