Apnatel Jabar Gelar Rapid Test Dukung Pemerintah Hadapi Normal Baru

Apnatel Jabar Gelar Rapid Test Dukung Pemerintah Hadapi Normal Baru
Ketua DPD Apnatel Jawa Barat, Boris Syaifullah, sedang melaksanakan pemeriksaan kesehatan dan rapid test Covid-19 di Bandung. (istimewa)
Apnatel Jabar Gelar Rapid Test Dukung Pemerintah Hadapi Normal Baru
Apnatel Jabar Gelar Rapid Test Dukung Pemerintah Hadapi Normal Baru

INILAH, Bandung  - Asosiasi Perusahaan Nasional Telekomunikasi (Apnatel) DPD Jawa Barat menggelar  “Pemeriksaan Kesehatan dan Rapid Test Covid-19” kepada para pengurus, mahasiswa, APPMI, dan karyawan secara gratis di kantor Borsya Group Bandung, Kamis (18/6/2020).

Rapid test ini merupakan bentuk kepedulian Ketua DPD Apnatel Jawa Barat Boris Syaifullah sekaligus Presiden dan CEO Borsya Group yang mewadahi para perusahaan bidang telekomunikasi yang menjadi anggotanya. Dalam menghadapi normal baru, swasta bersama pemerintah melaksanakan langkah-langkah menormalkan kembali perekonomian dengan melaksanakan adaptasi kebiasaan baru atau normal baru.

“Menghadapi era normal baru ini, kami pihak swasta juga mengapresiasi pemerintah yang terus melakukan upaya agar perekonomian juga kembali normal. Termasuk, kegiatan rapid test ini merupakan bentuk dukungan kami pada pemerintah dalam era normal baru ini,” kata Boris Syaifullah kepada INILAH di kantornya, Kamis.

Untuk menormalkan kembali perekonomian negara, semua pihak membutuhkan kebijakan-kebijakan pemerintah yang mendukung pengusaha dan masyarakat agar lebih mandiri. “Kemudian, yang tadinya tidak punya bisnis bisa membentuk dan mencetak para entrepreneur,” ujarnya.

Menurut Boris Syaifullah, rapid test ini akan dilaksanakan beberapa gelombang bagi pengurus DPD Apnatel Jabar, anggota, mahasiswa, dan karyawan serta Asosiasi Purna Pekerja Migran Indonesia –di sini pengusaha asal Sumbawa ini menjadi ketua dewan pembina.

Pemeriksaan kesehatan dan rapid test ini merupakan kontribusi Apnatel Jabar sebagai institusi swasta kepada warga Bandung dan masyarakat sekitar. Tentunya untuk mempermudah masyarakat luas dalam mendapatkan layanan rapid test secara gratis dan memutus mata rantai Covid-19 di Indonesia, khususnya di Jawa Barat.

“Semoga tidak ada pandemi gelombang kedua. Untuk itu, Apnatel Jabar mendukung melalui rapid test untuk umum dan anggotanya,” ujarnya. Kegiatan ini sangat membantu pemerintah daerah dan Gugus Tugas Penanganan Covid-19 sehingga sesuai dengan harapan supaya tidak terjadi pandemi gelombang dua.

“Ini merupakan rapid test yang pertama, berikutnya akan dilakukan lagi secara bergelombang sehingga makin banyak yang melaksanakan rapid test. Alhamdulillah saat ini tidak ada reaktif,” katanya.

Pada kesempatan itu, Boris Syaifullah juga menceritakan kondisi dampak pandemi Covid-19 di Jawa Barat juga di Sumbawa tempat asalnya. Diakui, bahwa Jawa Barat, khususnya Bandung memang kota kreatif, campur tangan pemerintah tidak terlalu banyak agar para pengusaha maju dan mandiri. Bisa dikatakan 60 persen sudah bisa berkembang tanpa bantuan anggaran biaya pemerintah.

Berbeda dengan Indonesia bagian timur, khususnya Sumbawa, mereka masih bergantung pada pemerintah. “Misalnya, petani menjual hasil taninya ke pemerintah. Otomatis mereka mengandalkan  peraturan-peraturan pemerintah yang berpihak padanya,” tambah Boris.

Kemudian, menghadapi normal baru ini perekonomian harus terus tumbuh. Untuk itu, kita harus terus mengembangkan bisnis. Ada berapa bisnis yang dalam kondisi saat ini dan ke depan berkembang luar biasa, seperti bidang telekomunikasi, transportasi, dan makanan.

Semua itu membutuhkan inovasi-inovasi luar biasa dari anak-anak muda. Apalagi, di zaman sekarang ini kan negara juga harus mandiri, tapi masih butuh bantuan negara lain. Makanya, untuk menyiasati ini butuh orang-orang yang punya kedekatan emosional dengan negara lain.

“Kita juga dapat bantuan serta kerja sama dari pengusaha Korea untuk melaksanakan dan mengembangkan bisnis telekomunikasi. Nah kedekatan-kedekatan emosional seperti inilah yang dibutuhkan sehingga terbangun kemitraan, terbangun persahabatan, dan membangun bersama dalam kerangka saling menguntungkan,” pungkas Boris. (sur)