Peneliti LIPI: PSBB Berdampak Besar Hilangnya Pekerjaan Generasi Z

Peneliti LIPI: PSBB Berdampak Besar Hilangnya Pekerjaan Generasi Z
Ilustrasi (antara)

INILAH, Jakarta - Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengatakan berdasarkan kajian sosial pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) saat pandemi Covid-19 berdampak besar terhadap kehilangan pekerjaan dari generasi Z.

"Yang paling banyak kehilangan pekerjaan adalah pendidikan rendah SMP ke bawah dan itu banyak di generasi Z," kata Peneliti Pusat Penelitian Kependudukan LIPI Deny Hidayati dalam acara virtual bertajuk "Talk to Scientists: Fenomena Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), New Normal, dan Mobilitas dalam Kajian Sosial", Jakarta, Jumat.

Generasi Z merupakan generasi setelah Generasi Y yang didefinisikan sebagai orang-orang yang lahir dalam rentang tahun kelahiran 1995 sampai 2010. Dia menjelaskan, survei dilakukan dalam jaringan pada 3-12 Mei 2020 dengan total valid responden sebanyak 919 orang berusia 15 tahun ke atas di wilayah PSBB DKI, Jakarta, Jawa Barat, dan Banten.

Deny Hidayati menyatakan yang paling sedikit terdampak terhadap mata pencaharian adalah generasi "baby boomer" yang memiliki pekerjaan tetap. Generasi baby boomer adalah generasi yang lahir setelah Perang Dunia II dengan rentang tahun lahir 1946 - 1964.

Pelaksanaan PSBB, kata dia,  berdampak cukup signifikan terhadap mata pencaharian responden, kebanyakan kehilangan sebagian besar pendapatan dan kehilangan pekerjaan. "Yang paling terdampak adalah generasi Z atau paling muda, mungkin mereka baru masuk pasar kerja dan lebih cepat terpental keluar dari kerja," katanya.

Yang juga paling terdampak, katanya, adalah mereka yang memiliki pendapatan rendah kurang dari Rp1 juta atau Rp2 juta. "Yang paling terdampak kehilangan pekerjaan adalah responden kita dari DKI Jakarta," katanya.

Adapun upaya yang dilakukan untuk mengurangi dampak PSBB terhadap mata pencaharian yakni mengubah pola menu konsumsi, mengambil tabungan, tetap bekerja meskipun gaji sangat kecil. "Yang paling banyak mengubah pola konsumsi adalah generasi Y dan paling sedikit generasi Z," demikian Deny Hidayati. (antara)