Mengejar Bahagia

Mengejar Bahagia
ilustrasi

PENGAJIAN sore tadi adalah tentang orang-orang yang mengejar bahagia. Di antara mereka adalah orang-orang yang masih terus bergelut dengan derita. Akhirnya tak terbendung air matanya mengalir. Beruntunglah mereka yang masih memiliki guru hati yang membimbing, ada yang menegur dan mengarahkan. Lalu bagaimana nasib orang yang tak punya guru dan tak memiliki teman agamis yang mau menggandeng tangan menuju jalan lurus?

Seorang jamaah pengajian di sebuah majelis ta'lim duduk sendiri, menundukkan muka dan tampak sedih dan pilu. Semua temannya tahu bahwa orang ini tak pernah sepi dari ujian dan musibah. Di saat bersedih menjalani ujian hidup yang melelahkan dan tak kunjung selesai itu, sang guru lewat sambil berkata:

"Dirimu tak tahu bahwa di balik ujian panjang ini ada anugerah agung yang disediakan Allah untukmu." Suara sang guru sebenarnya lirih sekali. Namun bagi santri dan jamaah yang memiliki sambungan hatidengan beliau, suara itu terdengar nyaring di telinga hati.

Dia, jamaah yang sedang menyeindiri itu mulai belajar tersenyum kembali sambil menghapus butiran air matanya. Iya, kesabaran dan keyakinan akan kemahabaikan Allah pasti mampu mengubah tetes air mata menjadi butiran mutiara.

Pengajian selesai, sang cucu minta digendong dan diceritai isi lengkap pengajian. Kuajari cucuku inti pengajian dengan ciuman cinta. Salam, AIM. [KH Ahmad Imam Mawardi]