Kawasan Wisata Wajib Miliki Sertifikat Normal Baru

Kawasan Wisata Wajib Miliki Sertifikat Normal Baru
Kepala Disparbud Kabupaten Bandung Yosep Nugraha. (istimewa)

INILAH, Soreang - Memasuki era Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) atau normal baru, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) mewajibkan seluruh kawasan wisata memiliki sertifikat normal baru.

Kepala Disparbud Kabupaten Bandung Yosep Nugraha mengungkapkan, sertifikasi tersebut merupakan prasyarat beroperasinya sektor pariwisata, seperti hotel, objek wisata, kafe, dan restoran pada masa AKB.

“Untuk mendapatkan sertifikat normal baru, kawasan wisata juga harus menerapkan LBPE (look, book, pay, and enjoy) sebagai sistem untuk menunjang pengaplikasian protokol kesehatan di bidang pariwisata,” ungkap Yosep Nugraha saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (19/6/2020).

Sebelum menerbitkan sertifikat, pihaknya bersama Dinas Kesehatan (Dinkes), Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), dan Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kabupaten Bandung akan melaksanakan tahap verifikasi.

“Meskipun masih tahap sosialisasi, kami menargetkan insya Allah 26 Juni nanti seluruh kawasan wisata sudah menerapkan LBPE dan memiliki sertifikat normal baru,” ujarnya.

Yosep juga menjelaskan, penerapan LBPE merupakan salah satu support sistem mendukung protokol kesehatan untuk memutus mata rantai penyebaran covid-19 di bidang pariwisata.

“Dengan penerapan LBPE, tidak ada lagi yang namanya antrean. Masyarakat tinggal menggunakan gawainya untuk melihat (look) tempat yang ingin dikunjungi, lalu melakukan reservasi (book) dengan cara menghubungi tempat tersebut via sosial media,” jelasnya.

Sementara untuk pembayaran (pay), dirinya menganjurkan untuk menggunakan non tunai atau multi payment gateway. “Dan terakhir, masyarakat tinggal menikmati (enjoy) hidangan, fasilitas hotel maupun keindahan alam Kabupaten Bandung tanpa khawatir akan penyebaran wabah,” papar Yosep.

Kepala Disparbud juga mengimbau seluruh pemilik kafe dan restoran untuk mengutamakan kebersihan, dapur, serta menjaga kesehatan para pekerjanya.

“Tak hanya itu, kafe dan restoran harus menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19. Antara lain, melakukan physical distancing antar meja dengan menggunakan partisi dan mengurangi kapasitas layanan makan di tempat sebanyak 50 persen,” imbau Yosep.

Dirinya melanjutkan, setiap kafe dan restoran juga harus memiliki akses masuk dan keluar yang berbeda. Hal tersebut dilakukan guna menghindari kontak fisik antarpengunjung.

Khusus untuk perhotelan, dirinya meminta untuk menyediakan ruangan khusus isolasi darurat dan layanan dokter selama 24 jam. “Ini sebagai langkah preventif apabila ditemukan tamu yang terindikasi gejala Covid-19,” jelasnya.

Sementara untuk menghindari kepadatan di objek wisata, pihaknya telah memberlakukan pembatasan jam operasional dan pengurangan kapasitas pengunjung.

“Selain menerapkan protokol kesehatan, kami juga menganjurkan wisatawan untuk membawa tujuh barang penting seperti masker cadangan, hand sanitizer, tisu, botol minum, alat makan, sabun cuci tangan, dan alat salat. Dengan begitu, pengunjung dapat berwisata dengan tenang, aman, dan bahagia,” pungkas Yosep. (agus sn)