Inilah Kisah Robert Alberts Memulai Karier Pelatih di Asia

Inilah Kisah Robert Alberts Memulai Karier Pelatih di Asia
dok/inilahkoran

INILAH, Bandung - Pelatih Persib Bandung, Robert Rene Alberts terang-terangan menceritakan kisahnya saat memulai perjalanan karir kepelatihannya di Asia. 

Pelatih asal Belanda ini mengatakan bahwa Malaysia, menjadi negara pertama yang disinggahinya tepat musim 1992. Dia membela klub bernama Kedah FA.

"Saya senang bisa menjadi bagian dari masa itu, antusiasmenya dan klub juga punya rencana bagus untuk masa depan. Mereka banyak menyiapkan dana dan merekrut banyak pemain asing yang bagus untuk Kedah. Saya juga mendapat keleluasaan untuk mendatangkan pemain asing yang bagus, disana juga ada banyak pemain lokal yang bagus," kenang Robert. 

Bersama Kedah FA, Robert mendapatkan pengalaman baru. Mulai mentalitas pemain yang ternyata tidak begitu buruk dibandingkan negara-negara di Eropa. 

"Saya teringat pada tahun 1993-1994, Malaysia saat itu menempati posisi 78 di peringkat FIFA. Jadi itu posisi yang tidak terlalu buruk. Dan sebagai contoh, saya bersama Kedah pernah mendapat hasil bagus. Juara tanpa terkalahkan dan catatan positif lainnya. Lalu manajemen memberi kebebasan untuk menggelar pemusatan latihan pada pramusim," katanya. 

Robert lantas memilih Amerika Serikat sebagai tempat yang layak bagi timnya untuk menjalani pramusim. Program itu berjalan kurang lebih satu bulan lamanya. 

"Pertama kami pergi ke Hawaii untuk bertanding melawan Hawaii Selection, lalu kami pergi ke Florida memainkan 3 pertandingan, dan kami tidak kalah di setiap laga baik itu menghadapi tim profesional maupun tim universitas yang saat itu bermain di liga kasta kedua," bebernya.

Secara kualitas, lanjutnya level Kedah FA cukup bagus saat itu. Bahkan timnya mampu memberikan perlawanan meski kalah 1-3 dalam laga persahabatan dari tim nasional Amerika Serikat yang tengah menjalani persiapan akhir sebelum bermain di Piala Dunia 1994. 

"Setelah pertandingan orang-orang datang kepada saya dan bertanya 'ini klub dari Malaysia?' dan mereka tidak pernah mendengar soal sepak bola di Malaysia. Jadi yang saya maksud, saat itu level dan standar klub Asia Tenggara cukup bagus," tuturnya. 

Setelah itu, Robert mencoba menjalankan pramusimnya di Indonesia. Saat itu, timnya mendapatkan undangan untuk ke Medan, Surabaya dan Bali. 

"Kami melakukan beberapa agenda latih tanding dan kehadiran suporter di Indonesia yang memberi saya dorongan untuk mencoba kesempatan melatih di Indonesia saat itu. Karena meski hanya sekadar latih tanding, tapi para suporter tetap memberikan semangat di belakang tim dan itu kesan bagus dari saya untuk sepak bola Indonesia," katanya.

Tepat di musim 2009, Robert mendapatkan tawaran untuk menjalani karier kepelatihannya di Indonesia. Tawaran itu datang dari mantan pemainnya saat sama-sama membela Kedah FA untuk menangani tim asal Malang, Arema. 

"Lalu saya berhasil meraih gelar juara bersama Arema. Itu adalah awal yang bagus dan saya cukup beruntung bisa mendapat hasil yang bagus pula. Meraih gelar juara bersama Arema bisa dikatakan tidak saya duga dan itu jadi ingatan yang tidak bisa dilupakan," kenang Robert. 

Di tahun berikutnya, Robert lantas memperkuat PSM Makassar. Namun saat itu, PSSI mengalami dualisme sehingga memunculkan dua kompetisi bernama Liga Premier League (LPI) dan Liga Super Indonesia (LSI). 

"Saat itu PSM tidak diizinkan bermain di Makassar melawan Persipura dan saat itu jika PSM bisa menang maka akan menjadi peringkat pertama di liga. Tapi PSSI menyatakan PSM tidak bisa bermain di Makassar dan harus bermain di Surabaya, dan Walikota saat itu menyebut kami tidak harus mengikuti itu, kami akan bermain di liga lain, tapi saya tidak ikut bergabung karena itu bukan liga resmi, sehingga saya memilih pulang ke Malaysia," katanya. 

Robert akhirnya memutuskan untuk kembali ke Indonesia lantaran tugasnya bersama PSM belum berakhir. Di musim 2018, dia hampir membawa Juku Eja meraih gelar juara. 

"Semua tahu PSM yang pada prinsipnya menjadi juara tapi karena sesuatu hal kami gagal juara," sesalnya. 

Robert mengaku tidak bisa melupakan seluruh kenangannya di setiap perjalanan kariernya sebagai pelatih. Terutama saat berhasil membawa timnya itu meraih gelar juara. 

"Meraih gelar juara adalah hal yang paling luar biasa dari setiap pelatih di dalam klub. Dan ini yang ingin saya dapat bersama Persib, kami mengubah tim dari musim lalu karena ada ketidakseimbangan di dalam tim. Ada banyak talenta, tapi tidak bisa mengembangkan talenta tersebut jika tidak bermain. Jadi kami mengubah tim, dan pada tahun 2020 ini kamu memulai dengan catatan yang bagus, tiga kemenangan beruntun dan satu-satunya yang bisa melakukan itu di liga sejauh ini. Jadi kami sudah mengerjakan pekerjaan rumah dengan benar karena tim sudah lebih seimbang, kedalaman skuat juga lebih baik di tiap posisi. Jadi ini yang akan coba saya bawa ke dalam ingatan saya dalam karier sepak bola saya, meraih gelar juara bersama Persib," pungkasnya. (Muhammad Ginanjar)