Polres Majalengka Ciduk Delapan Pelaku Illegal Logging

Polres Majalengka Ciduk Delapan Pelaku Illegal Logging
foto: INILAH/Ridwan Abdul Malik

INILAH, Bandung - Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Majalengka amankan delapan orang pelaku ilegal logging (pembalakan ilegal) di lahan Gunung Cidora, Desa Galaherang, Kecamatan Maleber, Kabupaten Kuningan.

Kapolres Majalengka, AKBP Bismo Teguh Prakoso mengatakan, penangkapan tersebut berawal dari diberhentikannya sebuah truk pembawa kayu sonokeling dari gudang di Desa Leuweunggede Kecamatan Jatiwangi Kabupaten Majalengka, oleh tim Satreskrim Polres Majalengka.

Saay diberhentikan, sang sopir pembawa muatan kayu berinsial DA, tidak dapat menunjukan Surat Keterangan yang Sah Hasil Hutan (SKSHH). Akhirnya, DA pun diamankan dan dikembangkan untuk menangkap tujuh pelaku lainnya.

"Awalnya pada hari Sabtu tanggal 06 Juni 2020, sekira jam 20.00 Wib, DA sedang mengakut kayu sonokeling. Dari Majalengka mobil truk yang dikendarainya menuju Kabupaten Mojokerto, akan tetapi diperjalanan Jalan Raya Cirebon-Bandung tepatnya di daerah Desa Loji Kecamatan Jatiwangi Kabupaten Majalengka diberhentikan oleh Sat Reskrim Polres Majalengka Polda Jabar dan berhasil diamankan karena tidak bisa menunjukan izin serta Surat Keterangan yang Sah Hasil Hutan (SKSHH)," ucap Bismo dalam keterangan persnya di Mapolres Majalengka, Senin (22/6/2020).

Sementara itu, Kabid Humas Polda Jabar Kombes Erlangga Saptono, menyebutkan, kedelapan pelaku adalah warga asli Kabupaten Kuningan. Mereka dibekuk dari hasil pengembangan pelaku DA.

"pelaku berasal dari Kabupaten Kuningan, Bandung dan Tuban. Para pelaku penebang liar berinisial JN, DS, AS, DR, serta DA sebagai pengangkut kayu, dan HN, NR, TR sebagai penadah kayu," ungkap Erlangga.

Erlangga menambahkan, berdasarkan keterangan para pelaku, mereka melakukan pembalakan liar atau ilegal di hutan milik negara itu dilakukan pada hari Senin tanggal 01 Juni 2020 lalu, pelaku illegal logging tersebut berhasil menggondol sebanyak 97 batang kayu sonokeling yang sudah dipotong.

Atas perbuatannya, para pelaku terancam dijerat pasal 83 UU RI No. 18 Tahun 2013 tentang pencegahan dan pemberantasan pengrusakan hutan.

"Ancaman penjara 5 tahun dan denda 500 juta rupiah sampai 2,5 miliar rupiah," pungkasnya. (Ridwan Abdul Malik)