Sikap Kami: Kita Tak Butuh CFD --Sekarang

Sikap Kami: Kita Tak Butuh CFD --Sekarang

PEMERINTAH Kota Bandung belum memikirkan digelarnya kembali hari bebas kendaraan bermotor alias car free day atau car free night. Kita memberikan dukungan penuh untuk itu.  Dalam kondisi sekarang, kesehatan harus menjadi landasan nomor satu kita.

Kita harus berkaca dari Jakarta yang sudah mulai menggelar CFD pada akhir pekan kemarin. Apa yang terjadi di Jakarta menunjukkan kepada kita kepedulian terhadap ancaman virus corona yang masih rendah. Seolah-olah yang terjadi bukan normal baru, melainkan normal seperti biasanya.

Banyak yang mencibir kegiatan itu. Ada yang secara sinis menuding seakan-akan kegiatan itu ingin membunuh –baca: melenyapkan—virus corona dengan lindasan sepeda.

Kita melihat tak sedikit yang salah kaprah menghadapi adaptasi kebiasaan baru, new normal, normal baru, atau apapun istilahnya. Buat kita, AKB adalah situasi di mana ada kelonggaran untuk hal-hal yang memang sangat penting.

Menikmati car free day adalah aktivitas untuk memenuhi kebutuhan tersier. Bukan yang sekunder, apalagi primer. Sama seperti kita juga menyesalkan aktivitas kepariwisataan yang sudah mulai melonjak di beberapa daerah, termasuk di Jawa Barat.

Tentu, kita sepakat, aktivitas pariwisata –termasuk sports tourisme seperti CFD—akan bisa menolong daya denyut ekonomi kita. Tetapi, tentu harus dengan pertimbangan-pertimbangan risiko kesehatan sekecil mungkin.

Belajar dari CFD di Jakarta atau dibukanya kembali jalur wisata di kawasan Puncak, kita melihat kesadaran itu yang sangat tipis pada warga kita. Tumpukan orang terjadi di CFD Jakarta ataupun di Puncak. Bukankah kerumunan itu yang selama ini kita sepakati sebagai salah satu jalur sutra pandemi corona?

Alih-alih memikirkan industri wisata atau CFD, lebih bermanfaat misalnya jika pemerintah mulai membuka pasar-pasar yang bermanfaat untuk orang banyak dengan protokol kesehatan yang ketat. Misalnya, dengan kembali membuka Pasar Baru atau Pasar Andir, di mana orang yang menggantungkan hidupnya begitu banyak.

Kita berharap Kota Bandung, juga kota-kota lain di Jawa Barat, konsisten dengan sikapnya menghindari kerumunan yang tak perlu dulu, termasuk CFD. Bukankah tanpa CFD, pemerintah juga sudah kesulitan menata dan menjalankan protokol kesehatan di titik-titik tertentu, termasuk di Kota Bandung.

CFD, hemat kita, bukanlah aktivitas yang sedemikian penting untuk hajat masyarakat Bandung. Dia hanya sebuah aktivitas leisure yang sejatinya juga bisa dilakukan bahkan hanya di rumah-rumah, atau di komplek perumahan. (*)