FMPP Keluhkan PPDB Online

FMPP Keluhkan PPDB Online
Foto-foto: Syamsuddin Nasoetion
FMPP Keluhkan PPDB Online

INILAH, Bandung - Forum Masyarakat Peduli Pendidikan (FMPP) melakukan audensi di Dinas Pendidikan Jawa Barat (Disdik Jabar) untuk meminta pertanggungjawaban terkait kekisruhan di masyarakat terkait Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) online yang sudah sangat merugikan mereka.

Ada beberapa poin yang disampaikan FMPP. Pertama, kepala Disdik Jabar baru tidak mengubah kebijakan yang lama terkait PPDB. Kedua, jalur afirmasi tetap menjadi prioritas dengan memperhatikan masyarakat miskin baru seperti terdampak Covid-19, pemutusan hubungan kerja (PHK), dan bencana alam.

Selain itu, siswa jalur afirmasi tidak dibebankan biaya pendidikan (SPP, dan kegiatan sekolah lainnya). Disdik menyangkan hasil nilai rangking, nilai prestasi akademi.

Dengan sistem sekarang banyak orang yang di rugikan karena sistem tidak transparan sehingga orang tua siswa tidak tahu alasan tidak di terimanya karena apa.

"Apalagi sekarang masyarakat diberatkan oleh sistem online ini, kita kan disini berbicara masyarakat miskin ya, tidak semua masyarakat miskin itu punya handphone Anroid, mereka ngerti gadget ngeriti IT dan lainnya," ujar Ketua FMPP Lia Setiawati kepada Wartawan di Disdik Jabar, Selasa (23/6/2020).

Dia menambahkan memang betul sudah ada upaya dari Disdik Jabar tentang masalah IT, akan tetapi sama sekali tidak ada edukasi, mereka juga tidak paham. Ketika mereka kesulitan untuk mendaftar, mereka harus lari kemana dan datang ke siapa, itu juga yang mungkin bahan pertimbangan Disdik Jabar.

"Kenapa tidak orang-orang kaya saja yang masuk sekolah swasta biar ada keadilan untuk masyarakat miskin, kan jelas kalau masuk sekolah negeri kan di tanggung oleh pemerintah, jangan sampai orang-orang kaya bisa menikmati sekolah negeri, sementara masyarakat yang miskin mereka harus ke sekolah swasta yang tidak mereka inginkan," papar Lia.

Sedangakn, Koordinator Pengawas SMA Disdik Jabar Juli Wahyu menambahkan hal pertama yang dikeluhkan adalah sistem daring, jadi pemasukan data mereka mayoritas masyarakat tidak mampu, ketika dia mengakses data itu menjadi kendala, sebetulnya pihaknya sudah mengantisipasi.

Lalu yang kedua adalah ada keluhan teknis informasi yang tidak tersampaikan, sehingga mereka mengganggap sistem ini tidak baik, sebetulnya sistemnya sudah bagus cuma tingkat pemahamannya yang belum.

"Solusinya adalah Disdik Jabar membantu masyarakat yang punya kendala yang selama ini mungkin tidak ada informasi. Kita sampaikan Disdik Jabar untuk membantu," pungkas Juli. (Okky Adiana)