Diskominfo Jabar Dampingi Pengembangan Ekosistem Pertanian

Diskominfo Jabar Dampingi Pengembangan Ekosistem Pertanian

NILAH, Bandung- Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat memiliki skenario untuk mendorong penguatan perekonomian Jawa Barat di masa depan. Sinergitas pertanian dengan pendekatan digitalisasi 4.0 dinilai menjadi salah satu jawaban di masa pandemi covid-19. 

Dinas Komunikasi dan Informasi (Diskominfo) Jawa Barat akan turut mendampingi pengembangan digitalisasi pada sektor pertanian. Di mana tidak hanya dalam mengembangkan teknologi Internet of Things (IoT) yang dipercaya dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas, namun terkait pemasaran komoditi pertanian dengan pendekatan digital pun menjadi fokus ke depan. 

Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi (Kadiskominfo) Jawa Barat Setiaji mengatakan, pihaknya terus berupaya melakukan penguatan infratruktur jaringan. Dengan begitu dapat dimanfaatkan dan diakses penuh oleh masyarakat, termasuk dalam mengembangkan pemasaran di sektor pertanian.

"Jadi salah satu fokus kita yaitu memperkuat dan mendorong ekosistem dalam pengembangan sektor pertanian, mulai dari teknologi pertanian sampai pada e-commerce," ujar Setiaji, Senin (22/6/2020).

Setiaji mencontohkan, salah satunya telah diterapkan di Badan Usaha Milik Antar Desa (Bumdes) Panca Mandala Kabupaten Tasikmalaya. Yang kini bisa disebut sebagai Bumades pertama di Indonesia yang bergerak di bidang penyedia jasa jaringan komunikasi internet.

Di mana pada Awalnya Bumdes ini bergerak di bidang produk unggulan lokal seperti hasil bumi dan lain-lain. Hingga pada perkembangannya lahirlah usaha penyedia jaringan komunikasi terutama internet, yang justru menjadi produk utama. Hal tersebut diinisiasi untuk mengatasi kesulitan memasarkan hasil produk dan mencari informasi untuk mengembangkannya. 

"Kalau mereka internet infrastrukturnya sudah mereka lakukan secara pemberdayaanya. Artinya mereka mengelola sendiri internetnya kita masukin ke satu titik dan mereka menyebarluaskan ke beberapa desa," paparnya.

Adapun hasil produksi komoditi pertanian yang dihasilkan, nantinya langsung dipasarkan melalui e-commerce. Setiaji menambahkan, pihaknya melibatkan sejumlah startup termasuk dengan sayurbox yang mengambil hasil panen dari para petani untuk dipasarkan kepada masyarkat. 

"Kita punya program unggulan lain seperti tanaman cabe dan sayur-sayuran juga yang lainnya," katanya.

Untuk memaksimalkan ekosistem pengembangan produk pertanian ini, Setiaji menilai, pihaknya perlu menjembatani juga memberi ruang kepada setiap starup yang memiliki ide, konsep maupun solusi dalam pemasaran komoditi pertanian. Mengingat, yang menjadi permasalahan startup dewasa ini yaitu memiliki ide dan solusi namun tidak memiliki akses untuk merealisasikan. 

"Jadi ini mereka punya ide dan solusi. Tapi hanya ide, dan antara teori dan praktek kan berbeda sekali," pungkasnya.

Sebelumnya, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengatakan, berdasarkan hasil kajian koreksi, terdapat sejumlah sektor ekonomi yang terkena imbas dari Pandemi Covid-19.  Yang paling minim pengaruhnya, yaitu terhadap sektor pertanian. 

Adapun yang paling tinggi terkoreksi yakni sektor jasa di mana turun 4,8 persen dan industri manufakturing 4,2 perse 

"Yang paling sedikit terkoreksi itu pertanian  hanya 0,9 persen. Menandakan sektor ini tangguh selama Covid. Apalagi kalau dikombinasi dengan digital," ujar Ridwan Kamil, Senin (22/6/2020).

Karena itu, dia mengaku, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat akan terus mencari strategi penguatan sektor pertanian yang lebih canggih. Di mana dewasa ini digitalisasi akan menjadi pembeda yang menjadikan komoditas pertanian lebih unggul dari segi kualitas maupun kuantitas. Tidak terkecuali dalam pemasaran komoditas pertanian itu sendiri. 

"Maka ekonomi masa depan adalah balik kanan lagi di bidang pertanian tapi dengan 4.0. Itulah masa depan Jabar yang akan kita skenariokan," katanya. (ADV)