Fase Normal Baru, UMKM Harus Terapkan Strategi Ini

Fase Normal Baru, UMKM Harus Terapkan Strategi Ini
Foto: Reza Zurifwan

INILAH, Bogor - Para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Kabupaten Bogor harus melihat fase normal baru ini sebagai peluang baru dan tantangan untuk kembali bangkit. Diperkirakan, jumlah pelaku UMKM akan meningkat seiring terjadinya gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) maupun dirumahkan yang jumlahnya di atas 9.000 orang.

Kepala Cabang BJB Cibinong Boy Pandji Sudrajat mengatakan, data kajian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyebutkan saat pandemi Covid-19 ini ada kejadian luar biasa. Dimana terjadi gelombang PHK mencapai 15,6% dan penurunan pendapatan pekerja hampir 40%. Bahkan, 15% di antaranya sudah tidak lagi memiliki pendapatan.

“Di tengah gelombang PHK, karyawan dirumahkan hingga penurunan pendapatan karyawan, maka UMKM harus bertahan di tengah pandemi Covid-19. Karena  kontribusi UMKM terhadap pertumbuhan PDB (produk domestik bruto) sebesar 60,3%. Saya berharap para pelaku UMKM memegang tiga hal, pertama kita fokus pada produksi. Kemudian fokus pada marketing dan selanjutnya kita fokus pada pencatatan. Jangan lupa, pencatatan itu penting untuk keuangan, dan untuk data base dalam mengembangkan bisnis," sebut Boy kepada wartawan saat ditemui di Radio Tegar Beriman, Rabu (24/6/2020).
 
Dia menambahkan, hal yang perlu dipersiapkan pada fase normal baru ini yakni konsep digital marketing. Kegiatan ekonomi itu berupa memaksimalkan produktivitas dengan mengganti setiap aktivitas fisik yang membutuhkan tatap muka menjadi digital.

“Bank BJB maupun Pemkab Bogor sangat mendorong kemajuan UMKM, kita punya paket relaksasi, jadi selama menghadapi pandemi ini kita berikan keringanan dalam dalam membayar pokok dan keringanan bunga. Mudah mudahan UMKM kita bisa bangkit kembali dan menjadi normal kembali," tambahnya

Ditemui di tempat yang sama, Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Djuanda Lucky Hikmat Maulana menuturkan saat ini UMKM harus mampu mengenali kecenderungan perilaku konsumen.

Terkait perilaku konsumen, dia menyebutkan ada empat hal yang harus dipersiapkan UMKM. Yakni, kecepatan dalam berbisnis, pintar dalam melihat peluang, buat jejaring yang kuat, dan ketangguhan.

“Saya berharap UMKM kedepan tetap berada pada jalur yang mampu mengenali perubahan perilaku konsumen terutama saat kondisi pandemi sekarang. Sehingga bisa menangkap peluang dan bekerja cerdas, iklas dan berjejaring. Karena dalam bisnis kalau dari hulu sampai hilir kita kerja sendiri maka akan kerepotan, jadi terus tingkatkan jejaring bisnis kita”, tutur Lucky.

Sementara itu, Ketua DPC Ikatan Wanita Pengusaha Indobesia (Iwapi) Kabupaten Bogor Inne Roswianita meyakini di tengah pandemi Covid-19 ini sektor UMKM harus banyak bergerak untuk berinovasi agar tetap bertahan.

“Kita harus perkuat strategi pemasaran secara digital untuk tetap berhubungan dengan para pelanggan. Untuk menghadapi pandemi global dan fase normal baru ini para pelaku bisnis harus terus berinovasi untuk dapat terhubung dengan para pelanggan”, kata Inne. (Reza Zurifwan)