Setahun Retribusi Sektor Unggas Hanya Rp36 juta, Kenapa? 

Setahun Retribusi Sektor Unggas Hanya Rp36 juta, Kenapa? 

INILAH, Cirebon - Anggota Komisi II DPRD Kabupaten Cirebon, Cakra Suseno menyoroti minimnya pajak retibusi dari sektor unggas. Pasalnya, saat ini pertahunnya hanya mampu memberikan retribusi sebesar Rp36 juta.

Padahal, populasi unggas pertahunnya mencapai 1,8 juta ton. Sedangkan dalam Peraturan Daerah (Perda) sudah ditentukan sebesar Rp200 Per kilonya.

Cakra menjelaskan, ada potensi besar yang dapat digali  dari sektor unggas. Hadirnya tiga industri besar yaitu  Pokpan, Sidoagubg dan New Hope, dinilai belum memberikan dampak signifikan terhadap PAD. Padahal, skala industrinya bukan lagi skala lokal, namun sudah skala nasional.  

"Kenyataannya, dari target yang dilaporkan, cuma Rp36 juta per tahun. Artinya rata-rata yang masuk ke Rumah Pemotongan Unggas (RPU),  pendapatan retribusinya cuma Rp3 juta perbulan. Lah ini kan tidak mungkin dibanding dengan populasi unggas saat ini," ungkapnya.

Kalau nilainya hanya Rp36 juta pertahun, berarti retribusi perharinya hanya  Rp100 ribu. Saat ini, pihaknya akan mendorong PAD untuk bisa ditingkatkan. Selain itu, Pemkab Cirebon dihimbau untuk mensuport paguyuban peternak. Jalan satu-satunya,pemotongan unggas dilakulan di RPU. Alasannya, RPU cukup menjamin, baik dari segi keamanan, kesehatan hewannya ko maupun kehalalan proses pemotongannya.

"Kita akan lakukan study banding ke Jatim karena sektor PAD dari unggas, disana cukup besar. Kami minta Pemkab Cirebon untuk serius memperhatikan PAD sektor ini. Potensinya sangat besar kalau dikelola secara baik," tukas Cakra. (maman suharman)