Ekonomi dengan Fintech di Masa Normal Baru

Ekonomi dengan Fintech di Masa Normal Baru
Monica Hanjaya, Mahasiswi PKN STAN. (istimewa)

Kebijakan normal baru yang diumumkan Jokowi pada akhir Mei dan telah dimulai sejak 1 Juni kemarin spontan menjadi perdebatan bagi para ekonom dan tenaga medis.

Para ekonom menilai normal baru sebagai cara untuk menyelamatkan ekonomi Indonesia yang telah mengalami penurunan pertumbuhan selama dua kuartal terakhir. Sedangkan para tenaga medis menolak hal ini dengan alasan Indonesia belum siap dengan normal baru.

Meskipun sempat ditarik ulur, pada akhirnya normal baru tetap dilaksanakan sesuai protokol-protokol yang telah ditetapkan, seperti memakai masker, menjaga jarak, dan selalu cuci tangan.

Tempat-tempat yang dulunya ditutup kemudian dibuka saat normal baru, salah satunya adalah mal. Di dalam mal terjadi transaksi jual beli yang tentunya memerlukan uang. Sebuah penelitian menyatakan bahwa Covid-19 bisa menyebar melalui uang.

Dikarenakan uang sangat cepat berpindah dari tangan satu ke tangan yang lain tanpa mengetahui apakah orang yang memegang uang itu sebelumnya terinfeksi Covid-19 atau tidak.

Untungnya, masyarakat Indonesia telah mengenal financial technology (fintech) sejak sebelum Covid-19 menyerang. Produk perbankan yang satu ini memiliki peran yang sangat penting di masa-masa seperti ini. Transaksi yang tanpa melibatkan sentuhan tentunya dapat mengurangi penyebaran Covid-19 dan menjadi sponsor dalam kebijakan normal baru.

Dalam fintech sendiri terdapat 4 segmen industri. Pertama, financing atau pembiayaan. Atau, istilah yang lebih familier di telinga adalah pinjaman online. Jika kita menggunakan segmen ini, kita harus sangat berhati-hati, sebab beberapa waktu terakhir banyak orang yang mengeluh setelah melakukan pinjaman online ternyata bunganya tidak manusiawi.

Apalagi, sekarang ini masa-masa sulit belum sepenuhnya berakhir. Sebaiknya kita mengecek terlebih dahulu aplikasi yang akan kita pinjami uang terdaftar dalam OJK atau tidak. https://bit.ly/3exyBke

Kedua, asset management yang menawarkan saran, pengelolaan aset, dan indikator agregat dari personal wealth. Masa pandemi ini menyadarkan banyak orang betapa pentingnya memiliki tabungan dan berinvestasi untuk berjaga-jaga apabila kondisi kahar datang tanpa permisi. Sebaiknya, kita mengambil pelajaran dari hal ini dengan mulai menabung dan berinvestasi dengan memanfaatkan teknologi yang sudah ada.

Ketiga, payment. Ini merupakan segmen industri dari fintech yang paling sering dan banyak digunakan, terutama di masa pandemi ini. Banyak kemudahan yang ditawarkan di dalamnya. Selain itu, perusahaan fintech juga masih sering memberikan potongan harga sebesar beberapa persen kepada para penggunanya.

Keempat, other fintech. Menggambarkan bisnis fintech yang tidak dapat diklasifikasikan oleh tiga fungsi bank tradisional lainnya, yaitu transaksi pembiayaan, pengelolaan aset, dan pembayaran. Segmen keempat ini menawarkan asuransi atau memfasilitasi akuisisi, termasuk dalam subsegmen asuransi.

Sebagai tambahan informasi, bahkan, kemarin, Bibit, yang merupakan salah satu fintech yang ada di Indonesia menggratiskan asuransi perlindungan virus corona hingga Rp30 juta. https://bibit.id/insurance

Uang, dalam segala macam bentuk dan keadaan, pasti erat hubungannya dengan ekonomi. Kerap muncul pertanyaan, Apakah fintech mempengaruhi jumlah uang beredar (JUB)?

Dengan berkembangnya, transaksi melalui fintech berarti transaksi menggunakan uang kartal mengalami penurunan. Apakah hal ini berarti mengurangi jumlah uang beredar? Dan, apakah ini merupakan sesuatu yang buruk dalam ekonomi?

Berkembangnya fintech berarti orang semakin jarang dalam melakukan transaksi secara tunai. Uang hanya akan berpindah dari akun satu ke akun yang lain, dari bank satu ke bank yang lain. Dengan begini, pembayaran melalui fintech dapat meningkatkan pendapatan masyarakat melalui penghematan biaya transaksi dan waktu yang diperlukan.

Meningkatnya pembayaran melalui nontunai melalui fintech berdampak langsung pada penurunan fungsi permintaan uang.

Meskipun peredaran uang kartal menurun, tetapi untuk JUB secara besaran umum justru bisa meningkatkan transaksi yang berarti meningkatkan perputaran dan peredaran uang.

Sistem pembayaran nontunai bisa meningkatkan stabilitas keuangan dan mempermudah bank sentral karena intervensi kebijakan menjadi lebih transferable. Misal, ketika bank sentral menaikkan suku bunga acuan (yang diharapkan menaikkan suku bunga tabungan/deposito) untuk menahan inflasi maka masyarakat menjadi lebih mudah untuk menahan uangnya di bank.

Dibandingkan jika masyarakat memegang uang tunai, ketika tertarik untuk menabung karena kenaikan suku bunga, mereka harus pergi ke bank (yang berarti ada biaya yang menjadi disinsentif untuk menabung).

Pertanyaan kedua yang sering muncul adalah, Apakah pemerintah memiliki fintech? Fintech yang banyak digunakan masyarakat saat ini adalah milik pihak swasta, seperti: ovo, dana, dan gopay. Padahal sebenarnya melalui BUMN Telkom, pemerintah juga memiliki fintech, dengan nama Link Aja. Namun, pengguna Link Aja disinyalir lebih sedikit jika dibandingkan dengan ovo, dana, dan/atau gopay.

Menurut Rizqi Fahma, dalam jawabannya di Platform Quora mengenai pertanyaan “Mengapa fintech dari BUMN tidak bisa berkembang secepat fintech swasta seperti ovo atau gopay, padahal memiliki modal dan basis pengguna potensial yang besar?”

Beliau mengatakan bahwa hal tersebut terkait dengan kebijakan investasi di BUMN yang tidak seperti pada perusahaan-perusahaan startup, di mana mereka rela “bakar-bakar duit” demi mendapat sebanyak-banyaknya user.

Di BUMN setidaknya bukan itu hal yang utama dalam kebijakan investasi. Yang lebih diutamakan adalah berapa keuntungan yang bisa diraih dari investasi yang dikeluarkan dalam satuan waktu tertentu. Jadi, pertumbuhannya tidak bisa secepat fintech swasta.

Jadi, dari beberapa segmen yang ada dalam industri fintech dan beberapa penyedia fintech, masyarakat sebagai pengguna bisa menentukan segmen apa dan penyedia mana yang akan yang dibutuhkan dan dipakai sesuai dengan urgensi masing-masing untuk memenuhi kebutuhan selama masa PSBB dan normal baru ini, tanpa harus khawatir dengan peredaran uang. (*)

Oleh: Monica Hanjaya, Mahasiswi PKN STAN