Tidak Hanya di Jabar, Deteksi Covid-19 CePad Bakal Digunakan di Jatim

Tidak Hanya di Jabar, Deteksi Covid-19 CePad Bakal Digunakan di Jatim
net

INILAH, Bandung - Tidak hanya di Jawa Barat, alat pendeteksi Covid-19 hasil inovasi Universitas Padjadjaran (Unpad) dan Institut Teknologi Bandung (ITB) yang dinamakan CePad akan digunakan untuk uji sampel di Jawa Timur. Itu lantaran sulitnya menemukan sampel pasien Covid-19 di Jabar.

Sekretaris Pusat Riset Bioteknologi Molekular dan Bioinformatika Unpad Muhammad Yusuf mengatakan, pihaknya saat ini sedang mencari sampel pasien positif Covid-19 untuk dilakukan pengujian.

"Tinggal kita sedang mencari sampel positifnya ini mudah-mudahan bisa dibantu juga. Kendalanya ini mencari sampel positif di Jabar sulit," ujar Yusuf, Kamis (25/6/2020).

Dia meyampaikan, selama satu pekan ini pihaknya telah bersinergi dengan Laboratorium Kesehatan Daerah Provinsi Jawa Barat (Labkesda Jabar) untuk menguji alat rapid test tersebut.  Mengingat sejauh ini Labkesda Jabar telah menguji sampel-sampel swab test Covid-19.

"Dari hasil uji yang dilakukan, ada sekitar 30 sampel diujicobakan itu, hasilnya setara. Jadi melalui PCR (swab test) negatif," ungkapnya.

Menurut dia, deteksi CePAD hanya membutuhkan waktu 20 menit untuk sampai menunjukkan hasil pengujian sampel agar mengetahui positif maupun negatif Covid-19. Saat pengujian sementara ini, Deteksi CePAD hanya bereaksi terhadap sampel virus penyebab Covid-19. Saat diuji terhadap sampel virus influenza dan virus jenis lainnya, bahkan virus corona jenis sebelum Covid-19, terbukti alat ini tidak menunjukkan reaksi.

Sedangkan terkait produksi Deteksi CePAD batch pertama, saat ini masih menunggu hasil validasi tersebut.

"Kami berkolaborasi dengan banyak pihak, Labkesda Jabar, RSHS, dan lainnya. Harapannya ini selesai dalam satu bulan dan kami juga dapat tawaran dari Pemprov Jatim. kami sudah dikontak untuk mereka membantu kami melakukan validasi agar lebih cepat," katanya.

Mengenai harga, dia mengaku diperkirakan deteksi CePAD ini dibanderol sekitar Rp100 ribu, belum termasuk biaya pengujian. Angka tersebut diklaim lebih murah daripada alat rapid test yang diimpor dari luar negeri di mana selama ini  sekitar Rp300 ribuan.

Rencananya setelah diproduksi sebanyak 3.000 alat untuk pengujian, alat ini bisa diproduksi sebanyak 30 ribu alat per bulan dan dapat dikembangkan terus kapasitas produksinya.

Dalam kesempatan tersebut diperkenalkan juga perangkat pengujian deteksi Covid-19 inovasi ITB dan Unpad, yakni GanexPad berupa kit dan sistem ekstraksi RNA kapasitas tinggi dan berbiaya murah, serta VitPAD atau Iceless Transport System, sebuah Viral Trasport Medium (VTM) yang memiliki ketahanan dan keamanan untuk penyimpanan dan transportasi sampel virus di suhu ruang.

Yusuf mengatakan validasi ke sampel virus dilakukan setelah alat tersebut tervalidasi di laboratorium. Yusuf pun memaparkan perabedaan rapid Test 2.0 dengan rapid test yang umum digunakan saat ini. DI mana rapid test Covid-19 yang umum mendeteksi antibodi, sedangkan Rapid Test 2.0 ini mendeteksi antigen.

Dengan begitu, menurut dia, Rapid Test 2.0 dapat mendeteksi virus lebih cepat karena tidak perlu menunggu pembentukan antibodi saat tubuh terinfeksi virus.

"Konsep deteksi antibodi maupun antigen keduanya bagus dan berdasar pada teknologi yang benar. Deteksi antibodi saat ini keunggulannya pada samplingnya yang lebih mudah, dari darah. Namun, deteksi antibodi pada Covid-19 lebih tepat untuk tracing, ingin tahu virus sudah menyebar di mana saja," ucapnya.

Deteksi antigen sendiri, ujarnya, bisa digunakan untuk mengetahui penyebab orang sakit ketika sedang menunjukkan gejala seperti demam dan batuk. Sedangkan jika orang baru terpapar virus beberapa hari, deteksi antibodi kemungkinan besar negatif atau nonreaktif karena antibodi terhadap virusnya belum terbentuk.

Saat ini, dia menambahkan, sedang melengkapi fasilitas assembly rapid test dan produksi sampai 5.000 kit pada Juni ini untuk keperluan validasi. Dalam hal ini pihaknya bekerjasama dengan mitra industri.

Nantinya, bilamana menunjukan hasil yang baik pascavalidasi, maka pihaknya akan memproduksi 10.000 kit. Untuk tahap selanjutnya, 50.000 kit per bulan sesuai dengan kapasitas produksi mitra saat ini. Jika diperlukan lebih banyak, kata Yusuf, pihanya mengajak partisipasi berbagai pihak untuk meningkatkan kapasitas produksi tersebut.

Adapun cara kerja Rapid Test 2.0 ini, yaitu sampel swab dicampurkan ke larutan khusus kemudian diteteskan ke alatnya.

"Sama dengan rapid test yang sekarang, 20 menit hasilnya keluar. Selain swab nasofaring, kami juga sedang mengembangkan sampling dari air liur," katanya. (Rianto Nurdiansyah)