COVID-19 Ubah Wajah Pendidikan Indonesia

COVID-19 Ubah Wajah Pendidikan Indonesia
istimewa

INILAH, Jakarta - Pandemi virus corona (COVID-19) turut mengubah dunia pendidikan, mulai dari metode pembelajaran, penganggaran, hingga sasarannya. Metamorfosis ini membutuhkan adaptasi agar kegiatan belajar-mengajar berjalan efektif.

Dalam proses belajar, misalnya, guru tidak lagi harus bertatap muka secara langsung dengan siswa karena dapat dilakukan secara online. Pendidikan juga bukan hanya diukur saat ujian, melainkan juga menghadirkan solusi atas persoalan yang sedang terjadi.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) melalui Surat Keputusan Bersama (SKB) Emat Menteri pun telah mengeluarkan metode pembelajaran tahun ajaran baru di masa pandemi COVID-19.

Salah satu poin dalam panduan tersebut adalah larangan melakukan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) tatap muka di 94 persen wilayah Indonesia yang berada di zona merah, oranye, dan kuning. Di wilayah tersebut, pembelajaran hanya boleh dilakukan secara online.

CEO Telset Hamzah mengatakan, di masa pandemi COVID-19, kesehatan dan keselamatan stakeholder pendidikan harus diutamakan. Pun demikian dengan pendidikan yang tidak boleh dihentikan.

"Untuk itu, kita perlu duduk bersama guna merumuskan solusi ideal untuk dunia pendidikan di era normal baru atau new normal," jelas Hamzah, dalam acara talkshow bertajuk 'Sistem Pendidikan Ideal di Era New Normal' yang digelar secara virtual, Kamis (25/6/2020).

Pada kesempatan itu, Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi menegaskan kesiapan Kota Bekasi menjalankan tahun ajaran baru 2020 menggunakan sistem pembelajaran online. Meski menurutnya, ada beberapa tantangan yang mesti dihadapi, mulai dari akses internet yang belum merata, keterbatasan infrastruktur pembelajaran online, hingga penguasaan terhadap teknologi di lingkup ekosistem pendidikan sekolah.

"Ini memang bukan hal yang mudah. Butuh banyak penyesuaian diri. Tapi saya percaya bahwa beradaptasi bisa menjadi langkah awal bagi kita untuk menapaki masa depan dunia pendidikan," ujar Rahmat.

Hal senada disampaikan oleh Founder Kelas Pintar Fernando Uffie. Menurut dia, pandemi COVID-19 bisa menjadi momen bagi dunia pendidikan untuk mempercepat proses transformasi ke pendidikan berbasis teknologi.

"Transformasi dunia pendidikan bukan tentang menegasikan peran tenaga pendidik dan sekolah, tapi justru menguatkan peran masing-masing stake holder tersebut," ucap Uffie.

Dia menambahkan bahwa pembelajaran online ataupun pendidikan berbasis teknologi sejatinya harus bisa mengakomodir peran guru, sekolah dan orang tua dalam proses pendidikan siswa. Pembelajaran online juga harus bisa menghadirkan interaksi di antara mereka, untuk memastikan pendidikan karakter tetap berjalan meski dilakukan secara virtual.

"Solusi pembelajaran online idealnya tidak sekadar menjadi pusat literasi tapi juga menjadi platform yang bisa mengakomodir sistem pembelajaran di sekolah. Dengan begitu, pembelajaran online bisa benar-benar menjadi solusi, karena comply untuk digunakan pada saat COVID-19 ataupun setelahnya," ujar Uffie. (inilah.com)