Sarbumusi Serukan Gerakan Membeli Dagangan Tetangga, Teman dan Saudara

Sarbumusi Serukan Gerakan Membeli Dagangan Tetangga, Teman dan Saudara

INILAH, Bandung,- Sarikat Buruh Muslim Indonesia (Sarbumusi) mengajak masyarakat kembali kepada jati diri bangsa melalui gerakan tolong-menolong dan gotong-royong. Salah satu yang diserukan Sarbumusi yakni gerakan belanja atau membeli dagangan milik tetangga, teman maupun saudara.

Hal itu dinilai dapat turut membantu saling meringankan beban di tengah keterpurukan akibat pandemi Covid-19.

Ketua DPP Sarbumusi, Suhandoko mengungkapkan, pandemi Covid-19 telah menjadikan hancurnya berbagai sektor termasuk PHK besar-besaran yang dialami kalangan buruh. Menurut Suhandoko, data Kementerian Tenaga Kerja melansir terdapat sekurangnya 3 juta pekerja Indonesia dirumahkan atau terkena PHK sebagai dampak pandemi.

Merujuk data tersebut menurut Suhandoko, bila angkatan kerja Indonesia sebanyak 136 juta orang sebagaimana data BPS dan angka pengangguran sebelumnya sebanyak 5% atau sekitar 7 juta orang maka saat ini terdapat 10 juta orang menganggur.

"Dapat kita bayangkan kondisi sekarang ini dengan banyaknya pengangguran. Sayangnya, Kementerian Tenaga Kerja sampai saat belum juga mempertemukan secara tripartit antara pemerintah, perwakilan serikat pekerja, dan pengusaha untuk sama-sama mencari jalan keluar," ungkap Suhandoko dalam siaran persnya kepada redaksi INILAHKORAN.Com, Kamis 25/6/2020).
 
Suhandoko menambahkan, di sisi lain, saat ini Pemerintah juga telah mengucurkan anggaran untuk stimulus UMKM dengan total anggaran sebesar Rp123,4 triliun. Anggaran tersebut diperuntukan untuk  tujuh program, yaitu subsidi bunga Rp35,2 triliun, penempatan dana restrukturisasi Rp78,7 triliun, belanja IJP Rp5 triliun, penjaminan modal kerja Rp1 triliun, PPh final UMKM Rp2,4 triliun, pembiayaan investasi kepada koperasi melalui LPDB Kemenkop dan UKM Rp1 triliun.

Ditambahkannya, berdasarkan data Kementerian Keuangan, serapan anggaran stimulus UMKM baru 0,06 persen dari total Rp123,4 triliun.  Rendahnya serapan anggaran ini kemungkinan disebabkan beberapa hal. Prosedur birokrasi yang berbelit atau bisa juga disebakan karena UMKM yang masih wait and see mengingat di lapangan saat ini terjadi penurunan daya beli masyarakat.

"Sebagai catatan saja saat ini UMKM menjadi seperti keranjang sebagian besar korban PHK dan di rumahkan. Sehingga dimungkinkan lebih banyak penjual daripada pembeli. Data dari Krmentrian Koperasi dan UMKM ada 61 juta UMKM di Indonesia," ujarnya.

UMKM disamping sedang bermasalah dengan menurunnya daya beli masyaraka. Saat ini juga terancam dari serbuan cloud-kitchen marketplace milik agregator-agregator jasa online di Indonesia seperti GoJek dan Grab.

"Karenanya dalam menghadapi kondisi sulit seperti sekarang ini. Sarbumusi mengajak masyarakat untuk kembali kepada jati diri bangsa Indonesia yaitu gotong royong, tolong-menolong dan saling bantu. Saatnya kita kembali merajut budaya yang sudah lama tidak kita sentuh dan dibeberapa tempat sudah mulai terkoyak," ujarnya.

Lebih lanjut Suhandoko menambahkan, salah satu hal yang dapat dilakukan sebagai implementasi nilai-nilai jati diri bangsa adalah dengan gerakan belanja kepada orang-orang terdekat yang berjualan seperti tetangga, dagangan teman atau saudara.

"Kita hidupkan kembali daya ekonomi masyarakat mulai dari bagian terkecil yang ada di sekitar kita. Caranya mulailah dengan membeli produk yang diproduksi dan dijual oleh orang yang dekat dan ada disekitar kita. Mulailah membeli barang/produk teman, tetangga atau sodara kita. Mulailah membeli sembako dari warung yang ada sekitar rumah kita, sayuran dari grobak abang sayur yang biasa lewat depan rumah atau berbagai camilan dan makanan siap saji dari teman-teman kita," ujarnya.

Terlebih lanjut Suhandoko, jika gerakan ini dipelopori para pemimpin bangsa, tentu akan semakin terasa lebih indah. "Tentu masyarakat akan tertarik kalau melihat Ibu negara dan  Istri-istri anngota kabinet belanja dari gerobak abang sayur. Membeli dan menyantap berbagai makanan produk-produk UMKM. Dengan demikian gerakan ini akan bisa bergerak secara nasional dengan demikian ekonomi akan bergerak dimulai dari bawah di bagian terkecil," pungkasnya. (ghi)