DPRD Kota Bandung Minta Masyarakat Jangan Abai Ancaman Covid-19

DPRD Kota Bandung Minta Masyarakat Jangan Abai Ancaman Covid-19

INILAH, Bandung,- Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Bandung mengajak masyarakat untuk terus waspada terhadap ancaman penyebaran Covid-19. Kendati pemerintah saat ini memberikan sejumlah kelonggaran, namun protokol kesehatan harus terus diterapkan.

Ketua Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Bandung Aries Supriyatna meminta kepada masyarakat, agar tetap waspada terhadap ancaman bahaya Corona Virus Disease 19 (Covid-19).

Dia menjelaskan, keputusan pemerintah untuk menjajaki Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) bertujuan agar masyarakat tetap menjalani kehidupan secara normal tetapi dengan mengikuti protokol kesehatan, supaya mata rantai penyebaran pandemi Covid-19 tidak membengkak. Bukan berarti dengan diberikan kelonggaran, pemerintah menyatakan persoalan tersebut sudah usai dan lalu mengabaikan ancamannya.

“Keadaan saat ini, bahwa kita sekarang sedang menghadapi penyakit wabah Covid-19 yang obatnya belum ditemukan. Dalam kondisi sekarang, kita itu ibaratnya seperti makan buah simalakama. Kita perketat aturan untuk tetap dirumah, seperti PSBB contohnya. Tapi berdampak ke ekonomi. Sementara ketika beri kelonggaran, jumlah korban justru semakin bertambah. Menurut saya, sebetulnya persoalan ini menyangkut kesadaran dan itu harus dipahami sebagaimana yang telah disosialisasikan,” ujar Aries kepada INILAH, Jumat (26/6/2020).

“Ketika diberikan kelonggaran agar menjaga perekonomian, tingkat kesadaran masyarakat seharusnya lebih ditingkatkan. Sebab mau tidak mau kita sekarang harus berdampingan dengan ancaman Covid-19. Tetapi bukan berarti kita tidak bisa memutus mata rantai penyebarannya. Caranya hanya satu, yaitu dengan mengikuti protokol kesehatan sesuai Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB). Ibarat kita kalau pergi ketinggalan dompet atau handphone. Pasti khawatir kan? Demikian juga ketika sekarang dengan adaptasi kebiasaan baru, seperti jaga jarak aman, selalu pakai masker dan jaga kebersihan. Itulah cara yang paling bisa kita lakukan untuk mencegah penyebaran,” sambungnya.

Selain itu kata Aries, pemerintah juga seharusnya harus berperan aktif agar masyarakat terbiasa mengikuti protokol kesehatan. Membangun opini akan ancaman bahaya Covid-19, sangat penting dilakukan agar masyarakat takut sehingga dengan sendirinya menaati protokol kesehatan yang ditetapkan. Sebab menurutnya saat ini pemerintah terkesan menyampaikan bahwa ancaman pandemi tersebut sudah turun, berdasarkan data hasil rapid test dan swab test.

Padahal lanjut Aries, kondisi saat ini masih jauh untuk dikatakan sudah kembali normal. Dia berharap, pemerintah dapat terus mengedukasi masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap bahaya Covid-19. Sehingga ketika masyarakat menjalani AKB, penyebaran pandemi dapat dicegah karena masyarakat selalu menjaga diri dengan mengikuti protokol kesehatan yang sudah ditetapkan.

“Pilihan kita sekarang mau tidak mau berdampingan dengan bahaya Covid-19. Tetapi dengan meningkatkan kewaspadaan. Itu yang harus ditanamkan. Namun peran pemerintah juga sangat dibutuhkan. Pemerintah harus menanamkan tentang bahaya ancaman Covid-19. Jangan ada kesan, sekarang sudah menurun berdasarkan data yang ada. Padahal angka tersebut bukan gambaran real penyebaran pandemi. Sebab enggak mungkin seluruh masyarakat Kota Bandung sudah di tes rapid atau swab. Jadi menurut saya sekarang pemerintah belum optimal. Membangun kesan kepada masyarakat harus waspada terhadap Covid-19 enggak ada. Sekarang ini kesannya sudah normal, padahal jauh untuk kembali normal,” ucapnya.

“Sekarang ini kita hanya bisa melakukan aktivitas normal dengan kebiasaan baru. Nah pemerintah harus meningkatkan promosinya, agar tingkat kesadaran dan kewaspadaan masyarakat tinggi. Harus dibangun opini bahwa di Bandung masih belum aman, walaupun sudah new normal. Apa yang terjadi sekarang, karena masyarakat tidak waspada dan kesadaran akan bahaya Covid-19 menurun. Untuk itu, pemerintah harus terus berpromosi, sosialisasi akan ancaman bahaya dari penyakit tersebut. Jika sudah begitu, masyarakat kan jadi takut. Ketika mereka takut, output-nya mereka akan selalu waspada. Itu poinnya,” terangnya. (yuliantono)