Sikap Kami: Survei? Woles Aja!

Sikap Kami: Survei? Woles Aja!

SEBUAH lembaga survei kemarin merilis temuannya. Soal kontestasi 2024, sedikit dikaitkan dengan wabah corona yang sedang melanda negeri ini. Sejumlah nama disebut-sebut.

Wargi Jawa Barat tentu senang, nama Gubernur Ridwan Kamil kian sering disebut-sebut. Dia memiliki tingkat keterpilihan ketiga, di belakang Prabowo Subianto dan Ganjar Pranowo.

Kita yakin, Ridwan Kamil takkan terlena dengan hasil survei ini. Pertama, tentu karena 2024 itu masih lama. Belanda masih jauh, kata orang Betawi. Yang kedua, barangkali, juga analisa pendek terhadap hasil survei.

New Indonesia Research & Consulting menyebutkan survei pada 8-18 Juni 2020 itu dengan margin of error 2,89% dan tingkat kepercayaan 95%. Kita mungkin bagian yang 5% itu, meragukan linier tidaknya hasil survei ini dengan kondisi yang ada.

Betul, survei adalah persepsi publik. Tapi, persepsi bukan berada di ruang hampa. Dia punya dasar-dasar keyakinan. Basisnya tentu berdasarkan data dan fakta. 

Soal elektabilitas kandidat, kita tak hendak debat. Tapi, menjadi aneh bagi kita betapa publik tidak mendasarkan persepsinya pada data yang ada untuk menentukan pemimpin yang berhasil menangani virus corona, salah satu yang oleh lembaga itu disebutkan jadi salah satu dasar elektabilitas.

Persepsi publik itu menyatakan Ganjar paling berhasil menangani Covid-19 (23%), disusul Emil (16.8%). Lalu, Khofifah Indar Parawansa (12,8%), Tri Rismaharini (9.3%), dan Anies Baswedan (8.1%).

Betulkah publik memiliki persepsi seperti itu? Jika betul, maka basisnya bukanlah data. Jelas, pilihan emosional. Sebab, ketika survei ini dimulai 8 Juni 2020, justru amuk corona sangat tinggi di Jawa Timur dan Surabaya. Selama 10 hari itu, Jatim adalah juara penambahan pasien Covid-19, sementara Jabar dan DKI Jakarta masih landai. 

Bagaimana mungkin penanganan Covid-19 Jateng di bawah Ganjar lebih baik dari Jabar di bawah Emil, sementara sepanjang 8-18 Juni, terjadi penambahan 776 pasien positif di Jateng dan 342 di Jabar. Aneh jika Khofifah dan Risma dipandang lebih berhasil dari Anies jika dalam rentang itu pasien positif Jatim bertambah 2.969 orang, dibanding DKI yang 1.480 orang? Perbandingan itu linier dengan kasus sembuh dan meninggal.

Jika elektabilitas kandidat capres lebih pada faktor-faktor individual dan psikologis, kita bisa terima. Tapi, jika persepsi publik terhadap penanganan corona tidak sedikit pun berdasarkan data, angka, dan fakta, maka kuat kemungkinan rakyat yang jadi responden survei memang sama sekali tak paham penanganan wabah Covid-19. 

Jadi? Saran kita untuk Ridwan Kamil, woles aja menghadapi survei seperti ini. Nggak perlu baper. Bekerja saja untuk rakyat Jawa Barat dan berbuatlah yang terbaik, sambil nikmati Liverpool juara. (*)