Antisipasi Gelombang Kedua Covid-19, Begini Upaya Pemkab Cianjur

Antisipasi Gelombang Kedua Covid-19, Begini Upaya Pemkab Cianjur
Ilustrasi/Antara Foto

INILAH, Cianjur- Satuan Gugus Tugas (Satgas) COVID-19 dan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Cianjur melakukan berbagai upaya guna mengantisipasi gelombang kedua penyebaran virus corona.

Juru Bicara Pusat Informasi dan Koordinasi COVID-19 Cianjur dr Yusman Faisal saat dihubungi di Cianjur, Senin mengatakan dengan dibukanya kembali tempat wisata yang ada di Cianjur, membuat wilayah tersebut rentan kembali ke zona kuning atau bahkan merah.

"Namun berbagai upaya telah disiapkan Satgas COVID-19 Cianjur, termasuk membatasi kunjungan ke tempat wisata, yakni masih sebatas untuk warga lokal, bukan dari luar kota, terlebih dari zona merah penyebaran," katanya.

Protokol kesehatan ketat, kata dia, wajib diberlakukan pengelola tempat wisata, pusat keramaian dan pusat perbelanjaan, sebagai upaya maksimal memutus rantai penyebaran COVID-19 terutama pada gelombang kedua yang seharusnya dapat diminimalisasi.

Ia menjelaskan saat diberlakukan adaptasi kebiasaan baru (AKB) dan menjelang penerapan normal baru, orang tanpa gejala (OTG) atau yang reaktif COVID-19 menjadi tantangan bagi semua daerah agar tidak kembali dalam zona merah karena sulit dideteksi.

"Sudah pasti risikonya tinggi ketika AKB dan normal baru diterapkan karena membuat kegiatan di luar rumah menjadi longgar, sehingga OTG yang sulit dideteksi menjadi perhatian khusus satgas dengan melakukan deteksi dini. Di pusat keramaian harus benar-benar menerapkan protokol kesehatan ketat," katanya.

Ia menjelaskan, selama pandemi COVID-19 dari lima orang pasien positif yang sempat menjalani perawatan merupakan OTG yang sempat tidak terdeteksi, sehingga upaya memutus rantai pada gelombang kedua yang mengantui semua wilayah harus diantisipasi secara maksimal.

"Kami akan fokus mengantisipasi gelombang kedua melalui penerapan protokol kesehatan ketat. Saat AKB diberlakukan, jangan sampai terjadi kasus baru akibat mereka yang reaktif tidak terdeteksi secara dini. Berbagai upaya antisipasi akan dilakuan termasuk melakukan tes cepat di perbatasan," demikian Yusman Faisal.