(Sikap Kami) Imam dan Korupsi di Olahraga

(Sikap Kami) Imam dan Korupsi di Olahraga
Ilustrasi/Antara Foto

BAGAIMANAKAH kita menyikapi kasus korupsi yang dilakukan Imam Nahrawi? Semua seperti tak masuk akal. Maksudnya, bukan tak masuk akal itu terjadi, melainkan latar belakang personal sang mantan menteri.

Pertama, Imam adalah orang terpelajar. Dengan latar belakang pendidikan moral yang kuat pula. Lama dia menuntut ilmu dan diasah moralnya di lembaga pendidikan yang menjunjung tinggi moralitas.

Kedua, Imam Nahrawi juga berasal dari partai politik nasional bernafaskan kebaikan pula. Logika kita, partai politik dengan latar belakang seperti itu, sepatutnya juga mengasah moralitas mantan menteri itu.

Ketiga, saat menjadi Menpora, Imam seperti panglima yang dibutuhkan di kementerian itu. Aksinya cenderung nekat (atau justru cari perhatian?). Dia, misalnya, berseteru dengan pengurus PSSI. Berkali-kali dia sudutkan Ketua Umum PSSI saat itu, La Nyalla Matalitti yang saat itu sempat ditahankan di Kejaksaan Agung atas dugaan kasus korupsi pula.

Imam pula yang pertama membongkar kasus “bawa pulang panci” yang sempat ramai dilekatkan pada pendahulunya, Roy Suryo. Belakangan, setiap mengkritik pemerintah, akun media sosial Roy Suryo selalu dikomentari banyak pihak dengan “panci…panci”.

Betapa hebat gambaran Imam Nahrawi. Betapa bersih. Tapi, semuanya runtuh seketika. Terlebih, suap dan gratifikasi yang dia terima tak tanggung-tanggung, sekitar Rp18 miliar. Duit itu, diduga, dia pakai untuk berbagai keperluan, ketika mengikuti kegiatan partai, ramai-ramai menonton Formula 1 di Australia, hingga menyiapkan usaha istrinya.

Sebagian duit itu, semestinya digunakan untuk keperluan pembinaan atlet, termasuk pelatnas. Jadi, bisa dibayangkan, betapa tidak amburadul prestasi olahraga kita jika pejabat yang mengurusnya seperti itu. Maka, buanglah jauh-jauh pikiran prestasi kita menjulang di Asian Games 2018 lalu karena peran besar pemerintah.

Itu baru dari sisi penyiapan atlet. Kita juga  tak tahu, apakah dalam hal penyelenggaraan event olahraga di Tanah Air, tak ada patgulipat seperti itu. Yang pasti, sebelum pesta olahraga Asia itu berlangsung, banyak pula masalah-masalah menyangkut keuangan yang tercium aparatur hukum. Tapi, publik tidak pernah tahu, ujungnya seperti apa.

Apakah itu juga melibatkan pejabat-pejabat di Kemenpora? Semuanya hanya akan diketahui jika ada keinginan aparat untuk sungguh-sungguh membongkarnya. Sayangnya, kepercayaan publik terhadap lembaga pembongkar kasus-kasus, kini turun ke titik nadir yang cukup rendah. (*)