Bukan Hitam, Kota Bogor Ada di Level Kuning Covid-19

Bukan Hitam, Kota Bogor Ada di Level Kuning Covid-19
Foto: Rizki Mauludi

INILAH, Bogor - Akhir-akhir ini, sempat beredar pesan berantai unggahan di media sosial terkait dengan peta sebaran Covid-19. Disebutkan, wilayah Jakarta berada di zona merah dan Bogor zona hitam.

Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor Sri Nowo Retno menegaskan informasi tersebut tidak benar. Apalagi sesuai fakta Kota Bogor tidak masuk zona hitam.

Berdasarkan zonasi dan level kewaspadaan penilaian Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 Jawa Barat, Kota Bogor masih di zona kuning.

"Jadi, itu tidak benar. Kota Bogor masih di zona kuning," kata Sri, Selasa (30/6/2020).

Terkait merebaknya informasi bohong seputar zonasi tersebut, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Bogor Rahmat Hidayat meminta masyarakat lebih bijak menggunakan media sosial di masa pandemi Covid-19 ini.

Dia menyebutkan, masyarakat harus bisa membedakan berita yang sumbernya jelas dan berita yang sumbernya tidak jelas hingga tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.

"Seseorang bisa dikenai pidana apabila menyebarkan informasi palsu. Merujuk UU ITE, dalam Pasal 45A ayat (1), setiap orang yang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan dipidana dengan pidana penjara enam tahun dan denda paling banyak Rp1 miliar. Kalau menyebarkan berita bohong, bisa kena Undang-Undang ITE," ujarnya.

Rahmat menjelaskan, untuk itu dirinya meminta kepada warga untuk berhati-hati menyebarkan berita yang tidak diketahui sumber dan kebenarannya secara pasti. Ia juga mengajak warga agar bijak dalam menggunakan media sosial.

"Jadi, biasakan bertabayun, cek dan ricek ke sumber-sumber yang bisa dipercaya," tambahnya.

Rahmat menjelaskan, penetapan level kewaspadaan Kota Bogor ditetapkan GTPP Provinsi Jawa Barat. Penetapan level kewaspadaan di Jawa Barat diatur dalam Pergub Jabar Nomor 46 tahun 2020 tentang Pedoman PSBB Secara Proporsional Sesuai Level Kewaspadaan Daerah Kabupaten/Kota sebagai Persiapan Pelaksanaan Adaptasi Kebiasaan Baru untuk Pencegahan dan Pengendalian Covid-19.  

"Dalam penentuan level kewaspadaan, ada sembilan indikator yang dipakai Pemda Provinsi Jabar, yakni laju ODP, PDP, pasien positif, kesembuhan, kematian, reproduksi instan, transmisi/kontak indeks, pergerakan orang, dan risiko geografi atau perbatasan dengan wilayah transmisi lokal. Sembilan indikator ini berdasarkan kajian dan rekomendasi pakar epidemiologi," tuturnya.

Sebagai informasi, level 1 rendah (hijau) itu menandakan daerah tersebut tidak ditemukan kasus positif, level 2 moderat (biru) dengan kasus ditemukan secara sporadis atau impor, level 3 cukup berat (kuning) atau ada klaster tunggal, level 4 berat (merah) ditemukan beberapa klaster, dan level 5 kritis (hitam) dengan penularan pada komunitas. (Rizki Mauludi)