Madrouf Mendulang Untung Bisnis Cupang Kukupu di Masa Pandemi

Madrouf Mendulang Untung Bisnis Cupang Kukupu di Masa Pandemi
Foto: Rizki Mauludi

INILAH, Bogor - Di masa pandemi Covid-19 ini, bisnis ikan cupang asal Kota Bogor kembali menggeliat. Khususnya, cupang Kukupu yang sekarang sedang naik daun untuk ikan hias.

Ikan mungil beraneka warna itu diyakini spesies asli kampung Kukupu, Kelurahan Cibadak, Kecamatan Tanah Sareal. Di kampung itu terdapapat puluhan peternak ikan hias yang tergabung dalam Kelompok Tani Ikan Hias Arjuna.

Salah satunya Madrouf. Pria berumur 63 tahun itu mengaku saat ini bisnis cupang relatif menguntungkan. Sebagai generasi ketiga, dia mengaku laku bisnis ikan hias itu dilakoni sejak puluhan tahun lalu. Tak heran, di sepanjang jalan kampung tersebut bisa ditemui berbagai kolam ikan mulai dari yang ukurannya kecil hingga besar.

"Selama pandemi ini, bisnis cupang lumayan untung. Tapi, ya namanaya juga bisnis kalau lagi bagus penjualannya bagus, kalau lagi kosong ya kosong," kata Madrouf, Selasa (30/6/2020).

Selama menjalani budidaya ikan, dia menuturkan harus mengalami jatuh bangun. Bahkan, pernah belasan tahun lalu dia mengalami panen ikan melimpah tapi karena pemasaran dan peminat hasil panennya justru tidak menguntungkan. Meski demikian, dirinya tetap berusaha bangkit dan konsisten melakukan budidaya ikan.

Saat ini, dari belasan kolam yang dimiliki Madrouf hanya ada tersisa dua kolam aktif yang diisi indukan jantan dan betina, serta tiga kolam pembesaran untuk burayak ikan cupang. Dirinya sengaja memisahkan keduanya untuk melakukan pembenihan ketika akan mengawinkan. Setelah sekian lama melakukan budidaya cupang, dia mengklaim cupang Kukupu hasil budidayanya itu merupakan spesies asli Bogor.

"Kalau orang bilang jenisnya banyak ada koi, fancy, multicolour, galaxy yang plakat dan lain-lain. Ada yang dari Singapura dan Thailand, tapi kalau saya ini cupang asli Bogor Kukupu. Karena dari mulai indukan pembibitan dewasa hingga jadi indukan lagi ya disini jadi bukan dari mana-mana ini cupang asli Bogor," jelasnya.

Sementara itu, peternak lainnya Febri Purnomo Marwan (30) menjalankan budidaya cupang hias dengan media yang sederhana dengan mengedepankan kualitas dibandingkan kuantitas. Untuk penjualannya sendiri dirinya mengandalkan media sosial hingga jaringan penghobi cupang.

"Saya hanya  menggunakan kolam kecil, menggunakan terpal dan beberapa baskom. Budidaya ikan cupang saya jalani sejak tiga tahun terakhir. Ternak sekitar 2018 awalnya kami cari indukan yang memang berkualitas, jadi kami budidaya bukan untuk mencari kuantitas tapi kualitas," ujarnya.

Pria yang biasa dipanggil Ebie itu menjelaskan, cupang hias yang dibudidayakan di tempatnya adalah cupang hias plakat yang terbagi dalam berbagai jenis. Untuk breeding (budidaya) cupang hias dari proses kawin bertelur hingga dewasa dan mengeluarkan warna yang cantik dibutuhkan waktu sekitar empat sampai lima bulan.

"Untuk breding cupang itu enggak sulit, hanya perlu sabar dan ketekunan. Cupang hias dengan berbagai kualitas atau grade yang dijualnya berkisar dari harga Rp100 ribu hingga Rp500 ribu tergantung dari grade ikan itu sendiri. Biasanya saya menjual cupangnya ke pasar ikan parung dan kebeberapa kios serta melalui media online Cupanghias_indonesia. Kami pernah mengirim ke luar pulau juga, ke Kalimantan dan Sulawesi, kami jamin pengemasan aman untuk ikan," jelasnya. (Rizki Mauludi)