Waspada, Angka Penyebaran Covid-19 di Jabar Berpotensi Meningkat

Waspada, Angka Penyebaran Covid-19 di Jabar Berpotensi Meningkat
Ilustrasi/Syamsuddin Nasoetion

INILAH, Bandung-Terjadi peningkatan angka reproduksi Covid-19 di Jawa Barat setelah sempat menurun sejak pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Di mana saat ini mencapai 1,01.

Diketahui, sebelumnya sempat dinyatakan angka reproduksi Covid-19 di Jabar terkendali, yaitu hingga di bawah satu. Dengan adanya kenaikan tersebut menunjukkan bahwa ada potensi peningkatan dalam waktu satu bulan ke depan.

Pakar Epidemiologi Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat pada Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Bony Wiem Lestari, mengatakan terdapat sembilan indikator untuk mengukur keterkendalian penyebaran Covid-19. Adapun angka reproduksi efektif sebagai salah satu indikator untuk bisa melihat apakah epidemi Covid-19 di suatu daerah sudah terkontrol atau belum. 

Sejumlah indikator untuk mengukur keterkendalian penyebaran Covid-19, yaitu angka laju ODP, laju PDP, laju kasus positif, laju kematian, laju kesembuhan, laju reproduksi Covid-19, laju transmisi, laju pergerakan lalu lintas dan manusia, dan risiko geografis.

"Hanya saja emang, dengan angka reproduksi efektif yang kemudian naik lagi ini, karena sebelumnya kan kita sudah di bawah 1, itu menunjukkan bahwa ada potensi peningkatan dalam sekitar satu bulan ke depan, sehingga ini perlu kewaspadaan kita bersama terutama dari sektor kesehatan untuk kita juga menyiapkan," ujar Bony di Gedung Sate, Kota Bandung, Kamis (2/7/2020).

Kendati demikian, menurut dia, bilamana dilihat dari angka rata-rata reproduksi Covid-19 selama dua minggu terakhir, Jawa Barat saat ini ada di angka 0,82. Dengan begitu, secara epidemiologi dinyatakan cukup terkontrol walaupun masih ada potensi peningkatan kasus.

Menurut dia, peningkatan angka reproduksi ini pun mendapat tanggapan dari Gubernur Jabar Ridwan Kamil. Hal itu tampak dengan melakukan berbagai upaya menyikapi penyebaran Covid-19. Misalnya, melaksanakan pengetesan Covid-19 di Jawa Barat dan penguatan infrastruktur, termasuk fasilitas kesehatannya sehingga Jabar bisa lebih siap begitu. 

"Jadi ini namanya suatu kewaspadaan bersama juga untuk penduduk Jawa Barat. Dalam arti untuk menerapkan protokol kesehatan itu harus dengan disiplin 3M, yaitu menjaga jarak, memakai masker, dan rajin cuci tangan. Itu merupakan suatu hal yang mutlak sudah harus jadi bagian dari kebiasaan sehari-hari," paparnya.

Meskipun terjadi peningkatan, namun pihaknya belum dapat memastikan bahwa itu menandakan awal dari gelombang dua penyebaran Covid-19 di Jabar. Mengingat  second wave atau gelombang kedua terukur bil menunjukan adanya angka penambahan kasus yang melonjak cukup tinggi dalam waktu periode yang singkat atau di tempat tertentu. 

"Nah sementara ini kita belum melihat ke arah situ. Hanya dengan angka reproduksi yang sudah lewat angka satu itu, artinya sudah jadi warning buat kita semua," kata dia. 

Bony mengatakan, untuk memastikan hal itu tentunya harus melihat juga dari hasil  tes dan berbagai kajian.  Lantaran peningkatan angka kasus positif itu juga harus dilihat dengan jumlah tes yang dikerjakan. 

"Kalau sekarang jumlah tes belum stabil, kita harus sangat hati-hati interpretasinya," tuturnya.


WHO, ujarnya, memiliki patokan agar tes pada kasus terduga Covid-19 dilaksanakan kepada 1 per 1.000 penduduk yang memiliki gejala Covid-19 tiap minggunya. Hal ini dilakukan supaya bisa cepat mendiagnosis dan mengisolasi pasien positif.

"Jabar saat ini sedang melakukan peningkatan banyak tes dengan PCR dan rapid test, nanti kita lihat hasilnya. Sejauh ini kalau dites itu PCR sekitar 1.534 per 1 juta penduduk," katanya. (riantonurdiansyah)