(Sikap Kami) Jalan di Tempat Cirebon

(Sikap Kami) Jalan di Tempat Cirebon

SALAH satu tugas partai politik adalah menyiapkan kader untuk jadi pemimpin masyarakat. Tentu, kader yang bisa lebih bermanfaat besar buat warga, bukan untuk partai politik, apalagi personal sang calon.

Sayangnya, ideologi semacam itu sulit kita lihat dari proses pencarian Wakil Bupati Cirebon yang sedang berproses saat ini. Yang kita lihat, partai lebih mengedepankan kepentingan mereka ketimbang masyarakat.

Secara legalitas, partai pengusung memiliki hak untuk mengajukan kandidatnya untuk posisi wakil bupati yang tengah kosong itu. Begitulah aturan demokrasi yang kita anut saat ini.

Tetapi, kita meyakini, dua nama yang disebut-sebut sudah mendapat rekomendasi partai saat ini, bukanlah kader terbaik mereka untuk masyarakat. Setidaknya, bukan kandidat yang sempurna dan bisa memenuhi ekspektasi masyarakat Kabupaten Cirebon.

Dua nama yang disebut-sebut sudah mendapat rekomendasi itu, seperti dikatakan Bupati Imron yang juga pimpinan cabang partai politik, adalah Wahyu Tjiptaningsih dan Cunadi.

Kita tidak dalam kapasitas menguji kapabilitasnya –meskipun sebagian orang juga meragukannya. Salah satu yang membuat kedua kandidat itu kurang sempurna adalah keduanya sama-sama orang dekat Sunjaya Purwadisastra, mantan Bupati Cirebon yang kini sedang menjalani hukuman karena kasus korupsi.

Secara politik saja, publik Kabupaten Cirebon kemungkinan takkan sepenuhnya percaya karena sangkutan dengan Sunjaya itu. Bukankah partai politik lebih baik mengajukan nama baru yang tak terkait dengan keluarga Sunjaya, syukur-syukur memiliki kemampuan mumpuni untuk mendampingi Imron?

Kita menduga, majunya nama Cunadi semata-mata untuk melengkapi persyaratan dua namanya saja untuk dipilih DPRD. Istilahnya, menyiapkan karpet merah untuk Ayu. Cobalah kita bayangkan pada situasi ekstrem, jika saja ternyata anggota DPRD tidak memilih Ayu, misalnya. Secara politik tentu tidak akan baik untuk masyarakat Cirebon.

Padahal, ini bukan pertama kali partai politik mengisi posisi kosong wakil bupati Cirebon. Pada era sebelumnya, posisi wakil bupati juga kosong karena Tasya Sumadi terjerat kasus hukum. Saat itu, partai menyodorkan kader yang mumpuni, Selly Gantina. Harusnya, hal serupa diulangi lagi.

Terlebih, karena kepemimpinan Imron sebagai Bupati Cirebon, tidaklah istimewa-istimewa amat. Masih banyak masalah terjadi di Pemkab Cirebon. Dia butuh pendamping yang kuat. Tapi, dengan nama-nama yang beredar saat ini, rasa-rasanya Kabupaten Cirebon –apa boleh buat—hanya akan berjalan di tempat, hingga kepemimpinan ini berakhir. (*)