Penumpang Stasiun Bogor Membeludak, Ini Arahan Bima Arya

Penumpang Stasiun Bogor Membeludak, Ini Arahan Bima Arya
Foto: Rizki Mauludi

INILAH, Bogor - Penumpang di Stasiun Bogor kembali mengalami lonjakan di awal minggu Pra Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) di Kota Bogor, Senin (6/7/2020) pagi WIB. Antrean penumpang mengular hingga ke area parkir.

Calon penumpang harus jalan menuju parkiran di tengah stasiun kemudian kembali lagi ke titik awal pintu masuk dan memutar lagi mengikuti antrean menuju pintu gate in stasiun. Sementara itu untuk mengatur antrean lebih tertib dan rapi petugas KCI dibantu dengan personel TNI-Polri untuk terus mengingatkan agar warga disiplin antre jaga jarak dan pakai masker.

Seorang pemumpang kereta, Andri mengaku, kaget melihat antrean panjang tersebut, karena pada Senin minggu lalu antrean penumpang tidak sepadat hari ini.

"Minggu lalu saja pukul 07.30 WIB sudah mencair antrean, tidak seperti hari ini. Pukul 09.00 WIB masih panjang luar biasa mas," ungkapnya.

Maharani mengatakan, antrean yang panjang membuat para calon penumpang harus antre sekitar 30 menit hingga dua jam. Hingga pukul 09.00 WIB tadi masih terlihat adanya antrean penumpang. Dirinya mulai antre pukul 08.00 WIB, hingga pukul 09.00 WIB masih berjejer dipintu gate in stasiun Bogor.

"Saya kaget pas kesini antreannya panjang banget, saya dari pukul 08.00 WIB lebih tadi sudah antre. Saya memaklumi kondisi tersebut, tetapi perlu ada solusi terbaik dari para pemegang kebijakan. Kalau untuk kebaikan bersama sih tidak apa-apa antre dan jaga jarak jadi disiplin, tapi kalau bisa dicari solusi untuk mengurai antrean karena kasihan juga yang mau kerja atau yang ada keperluan mendesak," tuturnya.

Sementara itu, Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto menuturkan, bahwa bantuan bus dari DKI Jakarta, BPTJ dan Pemkot Bogor tidak efektif.

"Tidak bisa, tidak bisa, penumpang 20 ribu satu bus isi 15 orang, ya tidak bisa begitu. Tidak bisa mau seperti apa, siapa yang mau sediakan bus, bus pemerintah terbatas," ungkapnya.

Bima melanjutkan, bahwa bantuan bus tidak selamanya bisa disediakan, kuncinya adalah evaluasi total shif kerja sembari memastikan tingkat kerentanan stasiun apakah kapasitas gerbong bisa ditambah. Ia menambahkan, bahwa untuk memutuskan penambahan kapasitas penumpang didalam, gerbong perlu ada kajian akademis dan analisa kerentanan penularan.

"Jika dari hasil kajian dan analisa ringkat kerentanan rendah maka bisa diusulkan untuk penambahan jumlah kapasistas di gerbon kereta. Kuncinya adalah tingkat kerentanan kalau dianggap sudah tidak rentan gerbong didalam bisa ditambah kapasitasnya jadi lebih banyak lagi penumpangnya, tapi ini kan memerlukan kajian yang sangat akademis juga jadi pak gubernur dan saya sepakat akan sering swab disini tingkat kerentannya kalau tingkat kerentanannya hanya bisa dikelola resiko bisa mnimal maka gerbong didalam akan ditambah tapi kalau tidak ya tidak ada cara lain shif kerja tadi," bebernya. (Rizki Mauludi)