Gugus Tugas: UTBK SBMPTN di Jabar Lancar

Gugus Tugas: UTBK SBMPTN di Jabar Lancar
Sekretaris Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Jabar, Daud Achmad. (antara)

INILAH, Bandung - Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Jawa Barat (Jabar) menyatakan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2020 berjalan lancar sesuai dengan protokol kesehatan yang ditetapkan.

"Untuk UTBK SBMPTN 2020 di Jabar sudah digelar sejak Sabtu (4/7) lalu. Secara keseluruhan saya belum mendapatkan laporan. Dan berdasarkan pemantauan Ibu Asda Satu Pemprov Jabar yang langsung meninjau pelaksanaan UTB di UPI, proses UTBK berjalan lancar," kata Sekretaris Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Jabar, Daud Achmad di Gedung Sate Kota Bandung, Senin.

Jumlah mahasiswa yang  mengikuti UTBK SBMPTN sebanyak 80.792 peserta.

Adapun ketujuh perguruan tinggi negeri atau PTN itu Universitas Padjadjaran (Unpad), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsika), Universitas Siliwangi (Unsil), dan Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung.

Daud mengatakan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Jabar terus memantau pelaksanaan UTBK di wilayah Jabar dan rencananya mulai Selasa (7/7) Gugus Tugas akan melaksanakan rapid test secara acan di beberapa tempat yang menggelar UTBK.

Ia mengatakan panitia pelaksanaan UTBK sudah melaksanakan protokol kesehatan seperti ketika akan masuk ruangan UTBK antreannya berjarak kemudian sarana dan prasarana pun, termasuk alat kesehatan sudah disiapkan.

"Jika di UPI kemarin ada seorang yang sakit jantung, dengan penanganan khusus ia bisa mengikuti UTBK. Sementara ada satu orang yang demam di atas 37 derajat maka ia tidak diizinkan untuk mengikuti tes dan disarankan untuk tes di gelombang pada 29 Juli nanti,” ujar Daud.

Sebelumnya, Gubernur Jawa Barat M Ridwan Kamil atau Kang Emil mengatakan calon mahasiswa yang akan mengikuti UTBK SBMPTN di tujuh perguruan tinggi negeri yang ada di Provinsi Jabar harus benar-benar warga yang berdomisili di Jabar.

Untuk calon lulusan SMA/SMK sederajat tersebut yang bukan warga Jabar sudah diarahkan untuk mengikuti tes-nya di universitas atau perguruan tinggi negeri terdekat.

"Kami mencermati isu baru yakni testing calon mahasiswa ke perguruan tinggi negeri. Sudah ada keputusannya bawah mereka yang akan ikut tes secara fisik harus warga Jabar. Yang di luar Jabar sudah kita arahkan untuk mengikuti tes di universitas terdekat dengan kota/kabupatennya," kata Emil.

Keputusan itu diberlakukan, kata Emil, karena ia tidak ingin ada kasus impor Covid-19 di Jabar karena di Cirebon ditemukan kasus Covid-19 yang berasal dari kasus impor dari daerah yang menjadi episentrum zona merah dari provinsi lain. (antara)