(Sikap Kami) Lampu Merah, Terobos Terus

(Sikap Kami) Lampu Merah, Terobos Terus
Presiden RI Joko Widodo. (Antara Foto)

Lampu Merah, Terobos Terus

PRESIDEN Joko Widodo mengibaratkan penambahan (rekor baru) 2.657 pasien baru Covid-19, Kamis (9/7) seperti lampu merah. Seharusnya, pernyataan semacam itu diimplementasikan dalam keputusan-keputusan. Jadi, bukan sekadar permainan diksi saja.

Kenapa sampai begitu? Buat kita, di luar apa yang terjadi pada Kamis kemarin, situasi yang dihadapi terkait wabah corona ini sangat serius. Setiap hari terjadi minimal penambahan 1.000 pasien baru.

Hemat kita, situasinya menyerupai lampu merah. Dalam aturan berlalu lintas, lampu merah maknanya setop berjalan. Kalau dalam sepak bola, kartu merah berarti pemain diusir wasit keluar lapangan.

Tapi, apa yang kita lihat kenyataan sehari-hari. Dengan berbagai diksi pula, kita tak melihat pemerintah menerapkan aturan yang serius dan ketat. Pemerintah alergi dengan kata relaksasi, padahal itulah yang sesungguhnya terjadi.

Tengok saja, sebagian tempat keramaian sudah dibuka. Pemerintah menyebutkan sesuai dengan protokol kesehatan. Seolah-olah pemerintah meyakini betul warganya taat terhadap protokol kesehatan itu. Faktanya, tengoklah pada kenyataan sehari-hari, masih banyak yang berseliweran tanpa masker, malas mencuci tangan, apalagi pakai hand sanitizer.

Jika kedisiplinan menjalankan protokol kesehatan yang kita andalkan melawan corona, maka kita patut risau. Kenapa? Bayangkan saja, sejumlah lembaga pendidikan kepolisian dan TNI, yang sangat disiplin saja, bisa ditembus virus corona, apatah lagi di pasar-pasar, di mal-mal, gedung bioskop, dan fasilitas publik lainnya, termasuk lokasi wisata.

Situasinya masih jauh dari normal. Tapi, pemerintah memandang seolah-olah sudah mendekati normal. Pakai istilah normal baru-lah, new normal-lah, adaptasi kebiasaan baru-lah.

Sejak awal, melalui kolom kecil ini, kita tak henti-hentinya mengingatkan pemerintah akan ancaman bahaya seperti ini. Dan Kamis kelabu kemarin, kita menemukan bukti, terjadi ledakan penambahan pasien baru.

Dalam penanganan corona ini, pemerintah harus menerima dengan lapang dada kritikan atas langkah-langkah mereka yang ragu-ragu. Sejak awal, bahkan ketika belum satupun warga kita yang terpapar virus itu.

Kegalauan itu, salah satunya, ditunjukkan pula dengan dikeluarkannya Perppu Pilkada yang akan diselenggarakan pada 20 Desember 2020 mendatang. Entah apakah kalau tanpa pilkada, kehidupan bernegara kita akan kiamat.

Kepada Presiden Jokowi, kita kembali menyarankan, untuk mengeluarkan sikap dan keputusan yang tegas menghadapi situasi ini. Kalau tidak, kita patut menduga penambahan pasien positif akan semakin banyak, di tengah berbagai istilah yang membuat orang kian ramai dalam aktivitasnya sehari-hari. Kita sepakat situasinya menyerupai lampu merah, karena itu jangan sekali-sekali menerobosnya. Nanti kita kena semprit.(*)