Dua Penumpang KRL Positif Covid-19, Bima Imbau Warga Waspada

Dua Penumpang KRL Positif Covid-19, Bima Imbau Warga Waspada
istimewa

INILAH, Bogor - Dari total 155 swab tes di Stasiun Bogor beberapa waktu lalu, dua orang penumpang Kereta Rel Listrik (KRL) warga Kota Bogor terkonfirmasi positif Covid-19. L

 

"Dua penumpang ini adalah pengguna layanan KRL," ungkap Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto disela meninjau pelaksanaan swab tes massal di Terminal Baranangsiang, Kecamatan Bogor Timur pada Jum'at (10/7/2020).

 

Bima melanjutkan, dari pengakuan orang yang terkonfirmasi positif tersebut, mereka sudah memakai masker dan disiplin menjalani protokol kesehatan.

 

"Jadi dengan data ini saya mengimbau warga tetap waspada dan hati-hati karena stasiun masih menjadi potensi klaster penularan Covid-19," tambahnya.

 

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor, Sri Nowo Retno mengatakan, bahwa Dinkes Kota Bogor menerima hasil swab tes massal di Stasiun Bogor pada Kamis (9/7/2020) malam. Melalui tim tracing dan tim lacak Dinkes Kota Bogot langsung menghubungi orang yang dinyatakan positif Covid-19 tersebut.

 

"Kami baru mendapat hasilnya tadi malam, terus langsung menghubungi yang bersangkutan. Kami juga akan melakukan tracing dengan tim lacak di kelurahan," ungkapnya.

 

Retno melanjutkan, dari data yang diterima pihaknya, dua orang tersebut tidak memiliki riwayat berpergian. Aktifitas yang dijalani setiap hari hanya mobilitas bekerja Bogor Jakarta dan sebaliknya menggunakan KRL. Saat ditanya apakah Stasiun Bogor bisa disebut sebagai klaster baru penularan Covid-19.

 

"Ya, hal itu bisa saja terjadi," ujarnya.

 

Masih kata Retno, artinya ketika ada penumpang KRL positif dua orang atau lebih dan tidak memiliki riwayat berpergian ke tempat lain luar kota atau luar negeri dan hanya melakukan mobilitas rutin menggunakan KRL maka Stasiun Bogor bisa saja menjadi klaster baru.

 

"Iya bisa jadi karena disebut klaster itu ketika ada dua orang mobilitas disitu setiap hari. Jadi kalau itu ada dua itu bisa disebut klaster dan kalau tidak ada riwayat tidak dari mana-mana jadi cuma aktifitas rutin sehari hari disitu," pungkasnya. (rizki mauludi)