(Sikap Kami) Pelajaran Penting Secapa AD

(Sikap Kami) Pelajaran Penting Secapa AD

MAKA, apa yang terjadi di Secapa-AD, sepatutnya menjadi justifikasi bagi pemerintah daerah untuk tidak dulu membuka kegiatan belajar-mengajar tatap muka. Bahkan, kita sarankan, meninjau ulang kebijakan-kebijakan sebelumnya, termasuk di sejumlah pesantren.

Seperti kita ketahui, ada sekitar 1.280 orang di Secapa TNI-AD yang terpapar virus corona. Sebanyak 991 orang di antaranya adalah siswa, sedangkan sisanya staf di Secapa-AD.

Tak hanya di Secapa-AD, di Pusdikpom TNI-AD di Kota Cimahi, hampir bersamaan, ada 99 orang tepapar virus serupa. Di antaranya termasuk 74 orang siswa Pusdikpom.

Tak perlu rumit-rumit memandang persoalan ini. Di lembaga pendidikan dengan tingkat disiplin tinggi saja, virus corona bisa menerobos, apalagi di sekolah-sekolah umum. Apalagi, berjangkitnya virus di sana diketahui berasal dari orang-orang tanpa gejala.

Salah satu hal yang bisa meredam persebaran virus corona adalah soal kedisiplinan. Dalam hal ini, disiplin menjalankan protokol kesehatan. Memakai makser, hand sanitizier, menjaga jarak, menjaga etika bersin dan sebagainya.

Bayangkanlah betapa tingkat kedisiplinan yang terjadi di sekolah-sekolah umum. Sangat rendah dibandingkan yang terjadi di lembaga-lembaga pendidikan TNI ataupun Polri.

Kita menyimpan kekhawatiran yang tinggi, sekolah-sekolah, jika dibuka KBM tatap muka, akan jadi klaster baru persebaran virus. Kita menyayangkan, jika ada daerah-daerah yang (sok-sokan) merasa sudah siap, padahal belum sepenuhnya siap menghadapi ancaman persebaran virus.

Kita mendukung setiap langkah pemerintah dalam meredam persebaran virus, termasuk dari lembaga-lembaga pendidikan. Karena itu, kita mendukung agar KBM tatap muka tak dulu dilakukan sekarang. Tetap sajalah belajar jarak jauh. Sampai kapan? Sampai keadaan betul-betul aman.

Kita, juga berharap, pemerintah dan otoritas terkait, meninjau ulang izin-izin kegiatan tatap muka dalam proses KBM di lembaga pendidikan apapun. Bahkan termasuk di lembaga pendidikan pesantren. Kita harapkan kebesaran jiwa pengelola ponpes mengingat besarnya tingkat ancaman yang terjadi dari kerumunan-kerumunan yang terjadi dalam proses pendidikan dan pengajaran.

Tentu, tak ada satu pihak pun menginginkan apa yang terjadi di Secapa AD, Pusdikpom TNI, atau Setukpa Polri di Sukabumi, terulang kembali. Tak ada cara lain selain menghindarkan kegiatan proses belajar-mengajar dengan kerumunan, betapapun tinggi-rendahnya tingkat kerumunan. Bukankah sikap waspada itu yang perlu kita pakai saat ini, sebelum wabah semakin meluas. (*)