Dandim Sudah Cium Aksi Begal Anggota Gadungan TNI Empat Bulan Lalu

Dandim Sudah Cium Aksi Begal Anggota Gadungan TNI Empat Bulan Lalu

INILAH, Soreang – Dandim 0624/Kabupaten Bandung Letkol Inf Donny Ismuali Bainuri menuturkan, kedua tersangka pembegalan yang nyaru sebagai anggota TNI, murni adalah warga sipil dan bukan sebagai anggota TNI di Kodim 0624. 

"Saya tegaskan, bahwa keduanya adalah murni orang sipil yang menggunakan atribut TNI untuk melakukan perampokan," katanya.

Donny menambahkan, peristiwa curas yang dilakukan oleh dua orang gadungan TNI tersebut tentu merugikan institusi TNI. Khususnya bagi Kodim 0624/Kabupaten Bandung. 

Terlebih, lanjut dia, kedua tersangka melakukan aksinya di wilayah Bandung Raya dan mengaku sebagai anggota TNI dari Kodim 0624/Kabupaten Bandung. 

"Tentu ini merugikan institusi kami. Jumlah aksinya bahkan sampai ratusan. Sehingga ini menimbulkan citra yang sangat buruk bagi TNI di masyarakat," ujarnya.

Donny mengaku sebetulnya sudah mencium adanya aksi curas yang dilakukan oleh TNI gadungan pada Maret 2020. Sebab, ada korban yang sempat melapor jika telah dirampas uangnya oleh orang yang mengaku sebagai anggota TNI dari Kodim 0624/Kabupaten Bandung. 

"Alhamdulillah, Polresta Bandung sudah bisa mengungkap kasus ini," katanya. 

Donny mengimbau jika masyarakat menemukan kasus serupa agar melaporkan kepada TNI maupun Polri. "Apapun modusnya, laporkan saja. Yang mencurigakan juga laporkan saja," ujarnya. 

Kedua TNI gadungan tersebut berinisial YS (42) dan SY (44). Keduanya terpaksa ditembak kakinya oleh polisi lantaran melawan saat akan ditangkap.

Kapolresta Bandung, Kombes Hendra Kurniawan, Senin (13/7/2020) membeberkan keberhasilan anggotanya meringkus kedua anggota gadungan TNI itu. Keduanya bahkan sudah ratusan puluhan kali melakukan aksi pembegalan.

Kedua pelaku, kata dia, bahkan mengancam dengan menodongkan senjata api jenis air softgun. Bahkan mereka tak segan-segan melukai korban jika tak memberikan uang. 

"Dari pengakuan kedua pelaku, paling sedikit saat melancarkan aksinya bisa mendapat Rp2 juta. Bahkan pernah mendapat Rp40 juta," katanya. 

Dikatakan Hendra, kedua tersangka memilih waktu malam hari untuk melancarkan aksinya. Hal ini dilakukan agar senjata api airsoftgun yang sudah tidak berfungsi tersebut tidak ketahuan. Terlebih seragam loreng khas TNI yang mereka gunakan sudah lusuh. 

"Akibat perbuatannya, mereka dijerat Pasal 365 KUHPidana dengan ancaman hukuman 9 tahun penjara," katanya.  (rd dani r nugraha)