DPRD Jabar Minta Pemprov Kaji Aturan Tilang untuk Pengendara Tak Pakai Masker

DPRD Jabar Minta Pemprov Kaji Aturan Tilang untuk Pengendara Tak Pakai Masker
Ilustrasi/Syamsuddin Nasoetion

INILAH, Bandung – Anggota Komisi V Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jawa Barat Siti Muntamah meminta kepada Gubernur Ridwan Kamil, untuk mengkaji ulang rencana memberlakukan denda atau tilang kepada masyarakat yang tidak menggunakan masker.

Dia mengatakan, memberlakukan denda berupa uang berkisar antara Rp 100 ribu sampai Rp 150 ribu, hanya akan menambah beban masyarakat. Sementara saat ini kondisi perekonomian masyarakat, masih belum stabil paska diterapkannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Menurutnya, pemerintah seharusnya memikirkan solusi lain agar masyarakat tetap patuh pada protokol kesehatan yang ditetapkan.

“Sebelum menerapkan sebuah aturan, sebaiknya dikaji lebih dulu. Sekarang ini, kondisi masyarakat daya belinya masih rendah setelah kita melalui masa PSBB kemarin. Orang kita, Insya Allah dengan cara yang lemah lembut mereka bisa ikuti. Seharusnya pemerintah bisa menggunakan, silih asah, silih asih dan silih asuh sebagai ciri khas kita yang kita bisa kedepankan. Jangan sampai nanti masyarakat menjadi antipati kepada pemerintah, karena aturan tersebut,” ujar Siti kepada INILAH, Senin (13/7/2020).

“Kita memang perlu tetap menghimbau dan terus mensosialisasikan. Memberi pelajaran, kalau ada masyarakat yang tidak memakai masker juga harus. Tetapi dengan cara lain, tidak harus dengan membebankan denda berbentuk uang. Mungkin bisa dengan sanksi sosial seperti disuruh push up, memungut sampah, atau apapun yang bisa memberi dampak positif. Pemerintah mungkin bisa mencari alternatif lain, mengenai hukuman bagi masyarakat yang membandel tanpa harus menambah beban mereka,” sambungnya.

Apalagi kata Siti, menurunnya tingkat kesadaran masyarakat dalam menaati protokol kesehatan saat ini, tidak lepas dari dampak sosialisasi pemerintah mengenai Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) yang terus digaungkan. Padahal bahaya pandemi Covid 19 sekarang kata Siti, justru semakin memprihatinkan dengan jumlah korban yang kian bertambah.

“Sekarang memang susah mencari orang yang pakai masker. Banyak yang sudah lepas, karena mengira sudah normal. Ini efek dari kampanye pemerintah mengenai new normal atau AKB. Orang sudah lupa, yang diingat hanya normal saja. Ini karena kampanye AKB yang terus-terusan, tetapi kampanye untuk tetap pakai masker. Mengikuti protokol kesehatan, berkurang. Padahal sekarang ini lebih mengerikan. Sebab tidak ada jaminan kita enggak akan tertular. Sekarang ini lebih baik kita saling mengingatkan dan saling mencontohkan, agar tidak ada lagi korban,” tandasnya. (Yuliantono)