KPU Bandung: Menjaga Partisipasi dan Keselamatan Pemilih Menjadi Tantangan Berat Pilkada 2020

KPU Bandung: Menjaga Partisipasi dan Keselamatan Pemilih Menjadi Tantangan Berat Pilkada 2020
Foto: Dani R Nugraha

INILAH, Bandung - Menjaga partisipasi pemilih merupakan tantangan terberat bagi Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Bandung pada pelaksanaan Pilkada 2020. Apalagi, Pilkada kali ini dilaksanakan di saat pandemi Covid-19 belum usai.

Ketua KPU Kabupaten Bandung Agus Baroya mengatakan, dalam menyelenggarakan Pilkada di tengah kondisi pandemi Covid-19 memang cukup berat. Sebab, selain harus bisa menjaga partisipasi pemilih agar tidak turun, pihaknya juga harus memastikan agar Pilkada ini menjamin keselamatan para pemilih.

"Ini adalah tantangan berat bagi kita, bukan hanya KPU Kabupaten Bandung tetapi juga seluruh masyarakat. Oleh karena itu, semoga masyarakat bisa saling memberikan informasi, saling meyakinkan, saling mengawasi dan juga saling mengoreksi, apabila ada hal-hal yang dirasa kurang pas, untuk kita perbaiki bersama-sama. Hingga pada akhirnya, masyarakat bisa antusias untuk datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) pada waktu pencoblosan dengan aman dan nyaman," kata Agus di Soreang, Selasa (14/7/2020).

Dia menjelaskan, pihaknya masih mencari cara agar partisipasi pemilih tidak turun meskipun ditengah pandemi virus corona. Namun memang, upaya ini tidak bisa lakukan oleh KPU sendirian, melainkan harus melibatkan semua stakeholder terkait lainnya. Formula yang paling utama untuk mencegah penurunan pemilih adalah dengan terus mensosialisasikan tahapan-tahapan Pilkada dan pentingnya kesuksesan Pilkada.

"Keselamatan pemilih nomor satu. Oleh karena itu, pemerintah melalui KPU sudah mengeluarkan PKPU Nomor 6 tentang tahapan Pilkada di tengah pandemi ini. Tujuannya adalah untuk meyakinkan kepada masyarakat bahwa sudah diatur sedemikian rupa, agar pilkada tetap bisa berjalan dengan partisipasi tinggi," ujarnya.

Agus melanjutkan, partisipasi pemilih di Kabupaten Bandung pada pemilu legislatif (pileg) kemarin, mencapai 83,6 persen. Sedangkan partisipasi pemilih pada pilkada 2015 lalu yakni sebesar 65 persen. Pada pilkada 2020 sekarang KPU memasang target sebesar 77,5 persen.

"Memang kalau untuk pileg itu selalu tinggi partisipasi pemilihnya, mungkin karena calegnya banyak. Ini berbeda dengan pilkada, partisipasinya memang dibawah pileg, nah persoalan ini juga menjadi tanggungjawab pasangan calon untuk mengajak konstituennya mencoblos," katanya. (Dani R Nugraha)