Dan Sulaiman, Petani Milenial Sukses Garap Lahan di Perumahan

Dan Sulaiman, Petani Milenial Sukses Garap Lahan di Perumahan
Foto: Rizki Mauludi

INILAH, Bogor - Bukan tanpa perhitungan Dan Sulaiman (25) terjun lansung ke bidang pertanian. Lulusan Teknik Fisika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya itu banting stir. 

Pemuda Kota Bogor itu memiliki keinginan kuat untuk membuat pertanian terintegrasi. Petani milenial asal Kota Bogor itu juga merupakan Ketua Kelompok Tani Dewasa (KTD) Bumi Pakuan.

Sejak lulus dari ITS pada 2018 lalu, dia memilih kembali ke Bogor untuk menggarap lahan pertanian di lahan pertanian Komplek Perumahan Pakuan 2, Jalan Dahlia IV ujung, Kelurahan Pakuan, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor.

Dan mengatakan, sejak lulus dari bangku SMA Negeri 3 Kota Bogor dirinya tidak pernah berpikir untuk menjadi petani. Dirinya pun kemudian memilih program studi ilmu fisika.

"Semasa kuliah pun saya tidak berpikir akan menjadi perani, malahan saya merintis usaha toko cuci sepatu pada tahun 2016 dan sampai sekarang masih berjalan di Jakarta dan Surabaya. Di Bogor juga ada tapi karena tidak kepegang dan saya milih fokus jadi pertanian jadi saya tutup tapi yg di Jakarta dan Surabaya masih ada," tutur Dan kepada wartawan, Selasa (14/7/2020).

Dan melanjutkan, kisahnya setelah lulus kuliah pada 2018 dirinya diajak paman untuk mengolah lahan petanian.

"Saya masih ingat betul sama paman saya Mang Aab katanya Dan garap nih pertanian di Bogor," tambahnya.

Dan menambahkan, saat itu dirinya langsung mengambil sikap untuk kembali ke Bogor walaupun awalnya tidak tau apa yang akan ditanam. Untuk mendapat masukan, dirinya pun banyak konsultasi dengan senior di kampusnya dan meminta saran dari beberapa orang.

"Diawal bertani saya sempat mendapatkan pengalaman menarik di saat dirinya mengalami hambatan. Ketika itu hasil panennya tidak bagus dan panen yang dihasilkan pun tidak begitu baik," tambahnya.

Dan menjelaskan, kemudian dia mengubah managemen lahan pertaniannya dengan mencoba kembali bertani dengan menanam mentimun dengan manajemen baru.

"Iya alhamdulillah sekarang sudah berjalan, dan hasilnya juga alhamdululillah. Keinginannya untuk menjadi petani muncul karena menjadi seorang petani tidak hanya sebagai profesi untuk mencari nafkah tapi juga bisa memberikan manfaat untuk orang lain. Kita hidup kan untuk memberikan manfaat untuk orang yang kita sayang dan dengan sesama. Kalau semua tidak mau jadi petani yang mau nanem nanti siapalagi, padahal kita setiap hari sudah pasti tentu butuh makanan," beber Dan sambil tersenyum.

Saat ini, dia mengolah lahan seluas sekitar 2.000 meter persegi yang ditanami mentimun, saat ini lahan pertaniannya pun sudah masuk masa panen. Ia juga memiliki mimpi atau keinginan menciptakan pertanian yang terintegrasi.

"Disini kan sudah ada perikanan dan pertenakan milik paman saya. Jadi tinggal diintegrasikan saja, Insya Allah juga mau ditambah madu, serta kedepan mau ada unsur teknologinya juga," pungkasnya. (Rizki Mauludi)