Sikap Kami: Erick Thohir dan Pendengung Murahan

Sikap Kami: Erick Thohir dan Pendengung Murahan

BANYAK cara untuk bahagia. Salah satu caranya hindari media sosial. Atau, kalau terpaksa bermedia sosial, lakukanlah dengan cerdas.

Sudah pasti, ketika pertama kali diciptakan, platform media sosial dimaksudkan untuk kebaikan. Untuk hal-hal positif. Jika media sosial jadi berisik tak karuan, jangan salahkan penciptanya. Salahkan penggunanya.

Hari-hari ini, misalnya, media sosial tiba-tiba saja dijejali nama Erick Thohir. Tanda pagar #ErickOut sempat merajai trending topic sepanjang kemarin. Kerap pula disandingkan dengan tagar #TolakDwifungsiABRI.

Bagi orang-orang yang senang bermedia sosial, apalagi aktif, rasa-rasanya tak sukar menemukan siapa, atau kelompok mana, yang mendengungkan tagar itu. Sangat gampang karena cuitan-cuitannya bisa ditakar.

Sudah pasti, tagar itu tak muncul begitu saja. Ada yang sengaja mendengungkan. Rasa-rasanya tidak salah kalau sebagian yang mendengungkan adalah juga yang memuji-muji Erick Thohir, Menteri BUMN itu, ketika menempatkan mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama sebagai komisaris Pertamina.

Salah satu sasaran tembaknya adalah keputusan Erick Thohir menempatkan beberapa anggota TNI dan Polri sebagai komisaris BUMN. Tentu, dalil ini menjadi lemah karena pemerintah pun menjalankan praktik “dwifungsi” pula dengan menempatkan tak sedikit pejabat kepolisian di posisi sipil. Kenapa untuk hal setali-tiga uang ini, para pendengung diam?

Anehnya, tepatnya ironisnya, dalam cuitan-cuitan tersebut juga dikait-kaitkan soal pendengung. Seolah para pencuit itu bukanlah bagian dari pendengung dengan kepentingan sesaat itu. Barangkali, sebagian di antara mereka, sepekan-dua lalu pun masih mendengungkan Erick sebagai menteri terbaik pilihan Presiden Jokowi, sebelum hari-hari ini menyerang Menteri BUMN itu.

Ironis? Jika ironisme itu hanya untuk pihak-pihak terkait, kita mungkin masih mahfum. Persoalannya, cuitan-cuitan pendengung itu faktanya justru berpengaruh terhadap cara pandang masyarakat. Bagi sebagian kalangan yang menelan bulat-bulan cuitan itu, tentu akan memunculkan pengaruh destruktif.

Apa yang dihadapi masyarakat saat ini terkait medsos, sudah lama terjadi, terutama setiap terjadi kontestasi demokrasi. Buat kita, cara-cara seperti itu adalah cara yang jahat, urakan, kampungan, dan dilakukan kaum pecundang.

Tekanan-tekanan seperti itu, sungguh tidak baik untuk kehidupan demokrasi kita. Sebab, tujuannya adalah penghancuran personal seseorang, bukan pada kinerjanya. Apalagi, kalau tindakan-tindakan seperti itu, dilakukan oleh pendengung berbayar, yang menggantungkan hidup dari sana, atas pesanan-pesanan pihak tertentu. (*)