Pemerintah Salahkan New Normal, Netty Aher: Pemerintah Buat Dagelan Lagi

Pemerintah Salahkan New Normal, Netty Aher: Pemerintah Buat Dagelan Lagi

INILAH, Jakarta,- Juru bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto merevisi istilah new normal yang dikampanyekan selama pandemi ini karena dianggap diksi yang salah. Pemerintah mengklaim bahwa masyarakat hanya berfokus pada normal saja. Pernyataan ini mendapat kritik dari anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani Aher, Selasa, (14/07/2020).

"Ini dagelan lagi. New normal disalahkan, padahal pemerintah juga yang memulai mengenalkan diksi itu pada masyarakat. Kebijakan dan komunikasi pemerintah masih saja berkutat pada istilah dan cover, bukan subtansi,"ujarnya dalam rilis yang diterima redaksi.


Pada kesempatan lain, Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden, menyatakan bahwa istilah new normal tidak mudah dimengerti masyarakat karena adanya unsur bahasa asing.
"Bukan soal diksinya saja, tapi memang tidak benar jika masyarakat diajak berdamai dengan Covid-19. Adalah sebuah kesalahan pemerintah mengampanyekan new normal, sementara Indonesia belum memenuhi persyaratan WHO tentang adaptasi kebiasaan baru. Bagaimana bisa hidup lebih sehat, lebih bersih, lebih disiplin, lebih taat dan lebih terlindungi jika angka transmisi masih tinggi, infrastruktur kesehatan kurang mendukung dan masyarakat pun tidak siap," jelas politisi perempuan PKS.

Menurut Netty, kini publik sedang menunggu sikap dan kebijakan yang substansial dari pemerintah, bukan lontaran wacana yang membuat masyarakat bingung.
"Beragam persoalan menunggu solusi konkret. Penyebaran pandemi belum lagi bisa dikendalikan. Bahkan Jakarta pun memecah rekor tertinggi kasus baru perhari dan rasio tes positif mencapai lebih 10 persen. Belum lagi dampak ikutannya soal PHK, pengangguran, kemiskinan. Apa solusi substansial yang ditawarkan pemerintah?" ujarnya prihatin.

Istri Gubernur Jawa Barat periode 2008-2018 ini menambahkan bahwa Indonesia memecahkan rekor kasus terbanyak di Asia Tenggara dengan menembus 70.000 kasus; kemampuan melakukan tes dan analisis masih sangat rendah, yaitu 1.074.467 tes yang dilakukan dengan rasio tes 3.927 per 1 juta populasi bahkan masa tunggu analisis hasil tes di beberapa daerah bisa lebih dari 1 minggu,
"Bagaimana kita bisa bergerak cepat melakukan antisipasi jika daya dukung kurang. Padahal evolusi Covid-19 menunjukkan cara-cara baru dalam menginfeksi manusia. Temuan terbaru, soal fenomena air borne, bahwa virus ini bertahan lebih lama di kondisi ruang dengan ventilasi buruk juga harus dipikirkan kebijakan solutifnya," katanya.

Kembali soal diksi new normal yang dipahami keliru, kata Netty," Jika pemerintah ingin masyarakat mematuhi arahan pemerintah, maka berhentilah membuat jargon dan dagelan. Sampaikan secara terbuka kepada publik, bagaimana grand design penanganan Covid-19. Pastikan bahwa proses pengetesan, pelacakan dan isolasi serta pelayanan kesehatan atas semua proses tersebut dilakukan dengan baik, transparan dan mudah diakses rakyat," tutup Netty mengakhiri.