Pengamat: Kemampuan Ekonomi Siswa-siswi yang Bersekolah Belum Tentu Merata

Pengamat: Kemampuan Ekonomi Siswa-siswi yang Bersekolah Belum Tentu Merata
Foto: Okky Adiana

INILAH, Bandung - Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) sedang dilaksanakan di berbagai wilayah di Indonesia, tak terkecuali di Kota Bandung.

Pada tahun ajaran 2020/2021 ini kegiatan MPLS yang sedianya dilaksanakan di masing-masing sekolah harus dilaksanakan secara daring. Ini merupakan imbas dari pandemik covid-19 yang sedang mewabah di Indonesia. Tentu saja, kegiatan ini menjadi hal yang baru baik bagi siswa-siswi baru atau bagi elemen di sekolah karena sebelumnya belum pernah terjadi.

Dikarenakan hal ini menjadi yang pertama dilakukan sudah pasti akan terjadi dinamika di dalam penerapannya. Hal yang menjadi krusial di dalam penerapan kegiatan MPLS atau yang berhubungan dengan sistem daring adalah gawai yang memadai.

"Seperti kita tahu, siswa-siswi yang bersekolah terutama di sekolah negeri kemampuan ekonominya belum tentu merata, dan hal inilah primer yang harus terdata secara baik oleh sekolah. Penggunaan gawai itu sendiri bukan dipakai hanya untuk masa MPLS saja, tapi akan berkelanjutan karena kegiatan proses pembelajaran secara tatap muka kemungkinan masih jauh untuk dilaksanakan," ujar Dosen dan Pemerhati Masyarakat Universitas Pasudandan (Unpas) Erik Rusmana kepada INILAHKORAN, Kamis (16/7/2020).

Menurut Erik, pemakaian gawai tanpa terisi kuota internet tentu saja menjadikan alat tersebut menjadi tidak fungsional. Seperti yang telah diberitakan sebelumnya, ada beberapa sekolah yang mendata keluarga siswa-siswi nya secara mendetil hingga kebijakan sekolah memberikan sejumlah uang untuk dipergunakan oleh para siswa untuk membeli kuota internet.

"Sudah barang tentu, dengan dua hal di atas segala permasalahan yang mungkin terjadi menjadi sirna seketika," imbuhnya.

MPLS daring yang dilaksanakan secara virtual pihak sekolah dilaksanakan demi mencegahnya penyebaran virus Covid-19 yang tidak kunjung usai. Diharapkan kegiatan secara daring ini bisa menjadi jembatan antara siswa-siswi baru dengan pihak sekolah untuk mengenalkan apa yang menjadi tujuan dari kegiatan MPLS itu sendiri.

"MPLS daring memang seperti disinggung di atas membutuhkan gawai dan kuota, akan tetapi ada juga hal lain yang merupakan kelanjutannya, yaitu jaringan. Saya kira jika domisili siswa-siswi baru ada di tengah perkotaan mungkin saja tidak menjadi kendala. Akan tetapi tidak bisa dibayangkan jika hal tersebut terjadi untuk mahasiswa yang tinggal di luar jangkauan jaringan, tentu saja hal inilah yang menjadi pekerjaan rumah (PR) bersama beberapa kementerian," papar Erik.

Selain itu, yang akan menjadi terasa hampa adalah ketidakhadiran para elemen di dalam ruang yang sama bersama dengan siswa-siswi baru. Jika diibaratkan sebuah pertunjukkan, maka ada kehampaan di dalam kegiatan MPLS ini, yaitu setting (ruang dan waktu) dan tokoh (pemberi materi atau semacamnya). Sebenarnya dua hal di atas bisa dihadirkan melalui teknologi, baik yang direkam atau secara langsung disiarkan.

Erik menyebutkan, ketidakhadiran secara bersama dalam ruang yang sama menjadikan para siswa-siswi baru harus menggunakan imajinasinya lebih keras lagi, dan ini menjadi sebuah tantangan bagi mereka. Biasanya dalam sebuah pertunjukkan audiens biasanya bisa merasakan atmosfer yang terbangun lewat berbagai hal, seperti gedung pertunjukkan, panggung, tata-cahaya, dan lainnya secara langsung. Kali ini, mereka harus pandai menerka dan mengimajinasikan elemen elemen tersebut, dan ini menjadi keuntungan juga bagi mereka untuk kembali memaksimalkan daya imajinasi mereka. (Okky Adiana)