Dampak Normalisasi Sungai Cikijing, Puluhan Hektare Sawah di Rancakeong Kekeringan

Dampak Normalisasi Sungai Cikijing, Puluhan Hektare Sawah di Rancakeong Kekeringan
Foto: Dani R Nugraha

INILAH, Bandung - Sejumlah petani di Rancaekek, Kabupaten Bandung mengeluhkan tidak adanya saluran irigasi karena tertutup pengerjaan normalisasi Sungai Cikijing. Akibatnya, sawah garapan mereka kekeringan di musim tanam tahun ini.

Awo Jarwo (71), seorang petani penggarap mengatakan sawah para petani di blok Rancakeong kondisinya saat ini memprihatinkan. Sawah garapan mereka mengering karena tidak terairi. Padahal, saat ini sudah masuk musim tanam.

"Tidak ada perhatian sama sekali. Akibat normalisasi, justru saluran irigasi menjadi tidak ada," kata Awo warga Kampung Rabcakendal, Desa Jelegong, Kecamatan Rancaekek, Kamis (16/7/2020).

Untuk mengairi sawah agar tetap produktif dan bisa ditanami, sejumlah petani penggarap harus rela merogoh kocek dalam-dalam. Sebab, untuk mengairi sawah itu petani harus menyedot air dengan biaya yang cukup tinggi. Dalam sebulan, petani harus menyedot air sedikitnya tiga kali dalam sebulan. Sekali sedot menghabiskan kurang lebih Rp80 ribu.

"Biaya segitu untuk sewa mesin, beli bahan bakar, dan juga upah tenaga," ujarnya.

Di musim tanam 2020 ini, Awo memperkirakan bisa mengeluarkan biaya tiga kali lipat untuk kebutuhan pengairan dari tahun-tahun sebelumnya untuk memulai proses penanaman. Belum lagi, petani juga harus melakukan pemupukan.

"Rasanya tidak sesuai dengan hasil. Setiap panen paling hanya dapat 2 ton saja. Sedangkan petani penggarap kan hanya mendapat bagian setengahnya," katanya.

Awo berharap pemerintah bisa mendengar keluhan para petani yang terkena dampak proyek normalisasi Sungai Cikijing. Setidaknya, pemerintah melalui pelaksana proyek membuatkan saluran irigasi untuk pengairan sawah di blok Rancakeong.

Hal senada juga diungkapkan petani penggarap lainnya, Iyah Sariyah (45). Menurutnya, sebelum adanya proyek normalisasi Sungai Cikijing, pengairan untuk lahan garapannya tidak pernah mengering.

"Dulu mah masih bisa mengairi sawah. Sekarang mah susah setelah ada normalisasi. Ayeuna mah garing sawahna (sekarang kering sawahnya),"ujarnya.

Sama halnya dengan Awo, dia juga terpaksa harus melakukan penyedotan air untuk mengairi sawah garapannya. Biayanya juga tidak sedikit.

"Sudah tidak ada saluran irigasi, hujan juga tidak rutin turun. Jadinya sawah kering. Makanya harus menyedot air dari selokan besar," katanya.

Iyah sendiri mengaku kerap berdoa untuk mendapat rejeki lebih untuk membiayai penyedotan air. Sebab jika tidak memiliki uang, sawah garapannya terpaksa tidak bisa ditanami.

Dia mengaku, untuk mengairi sawah garapan yang luasnya mencapai 100 bata itu pada musim tanam tahun ini, ia harus lima kali melakukan penyedotan dalam sebulan. Biayanya pun berkali-kali lipat dari musim tanam sebelumnya.

"Kalau enggak menyedot air ya sawah akan kering. Enggak bisa ditanami," kata dia yang mengaku belum pernah mendengar ada wacana akan dibuatkan saluran irigasi akibat dampak dari proyek normalisasi Sungai Cikijing itu," ujarnya. (Dani R Nugraha)