Produk Jahe Garut Diminati Pasar Luar Negeri

Produk Jahe Garut Diminati Pasar Luar Negeri
Foto: Zainulmukhtar

INILAH, Garut - Selama ini, Kabupaten Garut dikenal dengan keunggulan produk hortikultura tanaman sayurannya. Hasil panennya memasok kebutuhan sayuran di Bandung serta kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek).

Kini, satu produk hortikultura lainnya mulai mencuri perhatian pasar luar negeri. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Garut Beni Yoga menyebutkan, komoditas itu yakni tanaman jahe dalam bentuk rimpang segar.

Dia menyebutkan, permintaan jahe Garut itu berdatangan dari sejumlah negara. Selain Timur Tengah, kawasan lain yang melirik prosuk ini yaitu kawasan anak benua Asia seperti Pakistan dan Bangladesh.

Namun, dia mengakui permintaan pasar ekspor negara-negara pemesan itu kerap tak terpenuhi karena keterbatasan produksi jahe yang tersedia. Ujungnya, ekspor jahe Garut masih dalam skala terbatas bahkan seringkali terhenti di tengah jalan.

“Padahal, permintaan ekspor jahe Garut itu terbilang cukup besar. Jumlah bisa mencapai seratus ton,” kata Beni, Kamis (16/7/2020).

Sedangkan, Kepala Bidang Hortikultura Dinas Pertanian Kabupaten Garut Rahmat Jatnika mengatakan, salah satu keunggulan jahe Garut diminati pasar luar negeri karena posturnya besar, wangi, serta kandungan kurkumanya tinggi. Dalam tiga tahun terakhir, jahe diminati pasar ekspor terutama jenis jahe gajah. Sedangkan jenis jahe emprit dan jahe merah lebih banyak dikonsumsi pasar lokal untuk kebutuhan bumbu dapur dan bahan jamu tradisional.

Dia menuturkan, penyebab masih terbatasnya jumlah produksi jahe itu mayoritas diakibatkan keterbatsan lahan. Selain itu, kebanyakan budidaya jahe di Garut masih dilakukan secara konvensional bergantung pada musim. Artinya, jahe hanya menjadi tanaman sela.
Beda halnya dengan Thailand yang monokultur dengan penerapan teknologi yang bisa memanen produk jahenya kapan saja.

Pada 2019, produksi jahe berbagai jenis di Garut terhitung sebanyak 16.406,797 ton. Hasil panen itu dari lahan seluas 6.069.215 m2 yang tersebar di 36 kecamatan.

Pada 2015, produksi jahe garut sempat mencapai 28.972,938 ton. Namun, jumlahnya terus merosot pada 2016 menjadi 21.510,710 ton dan pada 2017 hanya 13.380,728 ton. Namun, dalam dua tahun terakhir, produksi jahe kembali mengalami tren peningkatan menjadi sebanyak 14.406,797 ton pada 2018, dan 16.406,797 ton pada 2019. (Zainulmukhtar)