Krisis Wabah, Pekerja Migran Ethiopia Ditelantarkan di Jalanan Lebanon

Krisis Wabah, Pekerja Migran Ethiopia Ditelantarkan di Jalanan Lebanon
Ilustrasi (antara)

INILAH, Addis Ababa - Alemtsehay Nasir (32) adalah satu dari ratusan perempuan Ethiopia pekerja domestik di Lebanon yang dipecat majikannya dan sempat telantar di jalanan Ibu Kota Beirut akibat terpukul krisis pada masa awal pandemi Covid-19.

Ketika itu, Alemtsehay ditinggalkan di trotoar depan gedung konsulat Ethiopia di pinggiran Beirut, tanpa diberi cara untuk pulang dalam situasi krisis keuangan yang tengah dialami Lebanon--sebagaimana juga negara-negara lainnya di dunia.

Menurut Alemtsehay, regulasi ketenagakerjaan Lebanon hanya menawarkan sedikit perlindungan bagi para pekerja migran, sehingga hal paling mungkin yang dapat dia dan rekan-rekannya lakukan adalah berharap pada bantuan agar bisa kembali ke Ethiopia.

"Kami  dikeluarkan (dari rumah) dan ditelantarkan begitu saja di jalanan dengan barang-barang bawaan kami. Bahkan sekarang pun, banyak sekali perempuan di jalanan sedang menunggu orang yang datang menolong," kata Alemtsehay kepada Reuters, Jumat.

Berdasarkan data resmi pemerintah Lebanon, Ethiopia menyumbang jumlah pekerja migran terbesar di negara itu.

Alemtsehay akhirnya dapat kembali ke Ethiopia, bersama sekitar 650 perempuan pekerja domestik lain, dalam penerbangan yang diatur oleh Pemerintah Ethiopia dan Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM), yang bergerak di bawah PBB.

Ada pula pekerja migran Ethiopia lain --yang menolak disebutkan identitasnya-- yang menceritakan bahwa ia ditelantarkan tanpa gaji maupun paspor, dan bahkan sempat ditahan karena tidak memiliki kartu pengenal apa pun.

Maureen Achieng, ketua misi IOM di Ethiopia, mengatakan bahwa para perempuan Ethiopia masih mendambakan pekerjaan di Lebanon kendati telah banyak terjadi kasus-kasus buruk semacam ini.

"Bahayanya banyak diketahui, namun tidak selalu cukup untuk menjadi penghalang," kata Maureen. (antara)