(Sikap Kami) Dinasti Politik dan SBY

(Sikap Kami) Dinasti Politik dan SBY
Ilustrasi/Antara Foto

MEMASUKI hari ketiga, Gibran Rakabuming masih jadi sorotan publik. Tak ada aturan yang dilanggar, hanya kepatutan yang jadi soal. Soal ini, rasanya kita patut belajar pada presiden sebelumnya, Susilo Bambang Yudhoyono.

Munculnya Gibran sebagai bakal calon Wali Kota Solo yang diusung PDI Perjuangan, meski sudah diperkirakan, tetap menyentak nalar politik publik. Gibran bukan siapa-siapa di panggung politik, kecuali putra Presiden Joko Widodo. Tiba-tiba, namanya mencuat, bahkan menyisihkan kader partai yang diusung DPC PDIP Solo.

Tentu naif jika kita menegaskan tak ada peran ayahnya di sana. Setidaknya, figur Jokowi, membuat partainya mengusung Gibran, mengungguli Achmad Purnomo, yang Wakil Wali Kota Solo. Setidaknya, ada “peran pasif” di sana.

Munculnya Gibran juga kontradiksi atas sikap-sikapnya yang praktis apolitik selama ini. Suatu ketika, baru 1-2 tahun lalu, dia menyatakan tak tertarik politik dan tak mau memunculkan politik dinasti, oligarki. Bahkan, pernah pula terucap dia takkan membantu langkah politik ayahnya di kampanye Pilpres lalu.

Maka, di tengah berbagai kontroversi, termasuk pemanggilan Purnomo ke Istana Negara yang dinilai tidak patut, langkah Jokowi dan Gibran patut kita sayangkan. Jokowi berdalih ini bukan dinasti karena nanti yang akan menentukan rakyat Solo. Betul, tapi Jokowi sudah membuka jalan untuk membangun dinasti itu dengan mengizinkan Gibran mengikuti kontestasi, dengan pengalaman politiknya yang secuil itu.

Dalam konteks ini, kita patut mengapresiasi apa yang pernah dilakukan presiden-presiden sebelumnya, terutama Susilo Bambang Yudhoyono. Tak seorang pun anaknya yang ikut eksekutif ketika SBY memimpin negeri ini.

Padahal, syarat untuk mendorong atau membuka jalan bagi putranya maju pada kontestasi pilkada, sangat terbuka. Salah seorang putranya, Ibas Yudhoyono, sudah sejak awal terjun ke dunia politik. Bahkan pernah jadi Sekjen Partai Demokrat. Lebih memenuhi syarat untuk maju pilkada.

Ibas, misalnya, jika ikut dalam kontestasi pilkada di Pacitan, kampungnya SBY, 99% bisa menang. Di sana, setiap kontestasi pemilu legislatif, suaranya paling tinggi. Bahkan pernah meraih suara terbanyak di Indonesia.

Tapi, tak satupun putra SBY yang maju pilkada ketika dua periode dia jadi presiden. Saat Agus Harimurti Yudhoyono maju di Pilkada DKI Jakarta, SBY sudah pensiun jadi presiden.
Kenapa begitu? Karena sejak awal terjun ke politik, SBY sudah menunjukkan penjunjungan tinggi terhadap etika dan kepatutan. Tak ingin terjadi nepotisme politik, sesuatu yang menjadi semangat reformasi pada 22 tahun yang lalu. (*)