Peretas Twitter Ternyata Sekelompok Anak Muda

Peretas Twitter Ternyata Sekelompok Anak Muda
istimewa

INILAH, San Francisco - Pelaku yang terlibat dalam peretasan akun Twitter sejumlah tokoh ternama dunia pada Rabu pekan lalu (15/7/2020), ternyata adalah anak-anak muda yang tidak memiliki hubungan dengan negara atau kejahatan terorganisir.

Serangan siber, yang sedang diselidiki oleh Twitter dan FBI itu, dimulai dengan pesan lucu antara peretas di platform Discord, obrolan yang populer di antara para gamer, demikian The New York Times melaporkan.

New York Times mengaku telah mewawancarai empat orang yang berpartisipasi dalam peretasan tersebut.

"Wawancara menunjukkan bahwa serangan itu bukan hasil kerja satu negara, seperti Rusia, atau kelompok peretas yang canggih," lapor New York Times.

"Sebaliknya, serangan tersebut dilakukan oleh sekelompok anak muda --salah satunya mengatakan tinggal bersama ibunya-- yang berkenalan satu sama lain karena memiliki obsesi untuk memiliki nama pengguna yang tidak biasa, satu huruf atau satu angka, seperti @y atau @6," lanjut laporan itu.

Peretasan terjadi pada sejumlah pengguna ternama, mulai dari miliader yang juga CEO Tesla Elon Musk hingga kandidat presiden AS Joe Biden, yang menimbulkan pertanyaan tentang keamanan Twitter.

"Berdasarkan apa yang kami ketahui saat ini, kami percaya sekitar 130 akun menjadi sasaran para penyerang sebagai bagian dari insiden itu," kata Twitter dalam sebuah cuitan.

"Untuk sebagian kecil dari akun ini, para penyerang bisa mendapatkan kendali atas akun tersebut dan kemudian mengirim cuitan dari akun itu."

Cuitan dari peretas mencoba menipu pengikut akun resmi Apple, Uber, rapper Kanye West, pendiri Microsoft Bill Gates, mantan presiden AS Barack Obama, dan banyak lainnya pada Rabu pekan lalu, untuk mengirim mata uang digital bitcoin.

Twitter mengatakan serangan tersebut tampaknya merupakan 'serangan rekayasa sosial terkoordinasi oleh orang-orang yang berhasil menargetkan sejumlah karyawan kami untuk akses ke sistem dan alat internal'.

Upaya peretasan

Cuitan, yang sebagian besar telah dihapus, berisi permintaan untuk mengirim US$1.000 dalam bentuk mata uang digital bitcoin dan menjanjikan akan mengembalikan dua kali lipat sebagai balasannya.

Menurut Blockchain.com, yang memantau transaksi kripto, senilai lebih dari US$100.000 telah dikirim ke alamat email yang disebutkan dalam cuitan.

Peretas muda yang diwawancarai New York Times mengatakan bahwa seorang pengguna misterius yang menggunakan nama 'Kirk' memprakarsai skema tersebut dengan sebuah pesan dan merupakan orang yang memiliki akses ke akun Twitter.

Mereka mengaku hanya terlibat dalam peretasan akun Twitter yang kurang terkenal, utamanya hanya karena ingin mendapatkan username @ dengan satu huruf atau angka untuk dijual kembali.

Mereka kemudian mencoba berhenti menjadi perantara untuk 'Kirk' ketika sejumlah akun ternama menjadi sasaran.

Menurut reporter investigasi kejahatan siber, Brian Krebs dari Krebs on Security, beberapa peretas memang 'terobsesi' membajak akun dengan nama profil yang pendek, yang biasa disebut Original Gangster (OG).

"Kepemilikan akun OG ini memberikan status dan pengaruh yang dirasakan dan kekayaan dalam lingkaran pertukaran SIM, karena akun seperti itu sering kali dapat menghasilkan ribuan dolar ketika dijual kembali di bawah tangan," kata Krebs dalam sebuah unggahan.

Menurut laporan New York Times, peretas yang terlibat dalam serangan terhadap Twitter menjual nama akun yang pendek di situs web OGusers.com, dengan meminta pembayaran dalam bentuk bitcoin. (inilah.com)