(SIkap Kami) Dukung Penutupan Jalan

(SIkap Kami) Dukung Penutupan Jalan
Istimewa

PENAMBAHAN penutupan ruas jalan di Kota Bandung harus diterima warga dengan lapang dada. Itu jika kita tak ingin status Kota Kembang yang kini sudah di zona oranye, turun lagi.

Status Kota Bandung, mulai kemarin, berada pada wilayah berisiko sedang. Bersama Kota Bogor, Kota Bekasi, Kota Depok, dan Kota Cimahi, Kota Bandung masuk zona oranye.

Artinya, meski belasan kecamatan di Kota Bandung dinyatakan sudah “bebas corona”, faktanya secara umum situasi masih cukup merisaukan. Apalagi, jika gegabah membuka semua pintu yang memungkinkan melebarnya persebaran virus.

Maka, langkah Pemkot Bandung bersama Polrestabes Bandung, menambah penutupan sejumlah ruas jalan, harus dipandang sebagai sikap waspada. Ini salah satu upaya untuk meredam persebaran virus corona.

Ada 11 jalur yang ditutup, dari arah selatan menuju pusat kota. Jalanan itu antara lain Ahmad Yani, Laswi, Gatot Subroto, Pelajar Pejuang, Talaga Bodas, Lodaya, Buahbatu, Srimahi, BKR, M Ramdan, Mohammad Toha, Otista, Kopo, Peta, hingga Pasir Koja. Ini menambah ruas jalan yang sebelum ditutup di pusat kota, di kisaran Jalan Asia Afrika. Penutupan dilakukan pukul 22.00 hingga 06.00 WIB.

Penutupan jalan pada malam hari itu adalah jalan kompromi Pemkot Bandung. Di satu sisi, penutupan tak menutup gerak roda ekonomi. Di sisi lain, penutupan jalan sekaligus mengecilkan peluang terjadinya kerumunan.

Pergerakan kasus corona sendiri, saat ini fluktuatif. Termasuk di Kota Bandung. Tingkat reproduksi juga naik turun. Itu artinya, tak salah zona oranye dilekatkan pada Kota Bandung. Terlebih, Kota Bandung merupakan pusat segalanya di wilayah Jawa Barat.

Ada yang tak puas, tentu saja. Tapi, tak ada kebijakan pemerintah yang bisa memuaskan seluruh warganya. Maka, keputusan itu harus dipandang untuk menyelamatkan sebagian besar warga Kota Kembang.

Kenapa kebijakan itu patut didukung? Karena faktanya, sebagian kita, memang tak bisa mendisiplinkan diri. Alih-alih disiplin karena kesadaran, bahkan sudah banyak rambu-rambu pun kerap diterabas. Itulah sebabnya, virus corona betah di samping kiri-kanan kita.

Kita, sekali lagi, dalam konteks melawan virus corona, mendukung langkah apapun yang dianggap bisa meminimalkan persebaran wabah. Virus tersebut telah memporakporandakan segala sendi kehidupan kita. Maka, tak ada jalan lain, kecuali kita bersama-sama melawannya. Salah satunya dengan mengikuti langkah dan kebijakan positif yang dilakukan pemerintah. (*)