Budayawan Sebut Sunda Empire Halusinasi

Budayawan Sebut Sunda Empire Halusinasi

INILAH, Bandung-  Keberaan Sunda Empire diakui sejumlah budayawan Sunda bisa merusak keharmonisan, dan tatanan budaya Sunda. Bahkan, ada juga yang beranggapan narasi tentang Sunda Empire bak sebuah halusinasi.


Hal itu terungkap dalam siadng lanjutan kasus dugaan penyebaran berita bohong Sunda Empire, di Pengadilan Klas IA Khusus Bandung, Jalan RE Martadinata, Selasa (21/7/2020).


Dalam sidang dengan agenda kesaksian tersebut, Tim JPU menghadirkan beberapa budayawan Sunda, seperti Robby Mulana budayawan yang juga Ketua Umum DPP Sundawani Wirabuana, dan Ketua Majelis Adat Sunda Ari Mulia Subagdja.


Seperti yang diungkapkan oleh Ketua Umum DPP Sundawani Wirabuana Robby Mulana. Ia menganggap keberadaan SUnda Empire dan narasi history yang disebutkan oleh Kiageng Rangga Sasana ibarat sebuah halusinasi.


"Saat Sunda Empire viral, saya mulai resah.  Karena ini penyebaran halusinasi," katanya di persidangan yang dipimpin T Benny Eko Supriadi.


Bahkan, menurutnya, klaim-klaim yang disebarkan oleh para petinggi Sunda Empire sangat bertentangan dengan unsur-unsur yang ada dalam Undang-undang 19445 yang menjadi dasar tatanan kehidupan Bangsa Indonesian secara umum.


"Tentang pembukaan UUD 45 itu saja semua unsur harus mencerdaskan bangsa. Sunda Empire ini sudah pembodohan, bertentangan dengan UU 45,"  ujarnya.


Hal senada diungkapkan Ketua Majelis Adat Sunda, Ari Mulia Subagdja. Ia mengaku semenjak munculnya Sunda Empire dengan segala kontroversinya, kegaduhan dan keresahan di masyarakat Sunda mulai muncul.


"Saat muncul di YouTube, banyak orang nelepon saya, datang ke saya mempertanyakan ini, ada hubungan atau tidak dengan Majelis Adat Sunda, dengan bangsa Sunda dan Indonesia," ujarnya.


Bahkan, sejak mereka (Sunda Empire) viral di lini masa media sosial orang yang bertanya kepada soal Sunda Empire makin tak terbendung. Apalagi dengan pengakuan-pengakuannya yang sangat mengejutkan.


"Saya bawa ke rapat Majelis Adat Sunda. Intinya kita merasa terganggu. Terganggu masalah waktu, kemudian malu. Karena dianggap (orang) Sunda semua seperti dia (Sunda Empire)," uijarnya.


Usai berembuk bersama Majelis Adat Sunda dan sejumlah tokoh Sunda lainnya, Ari pun lantas melaporkan kasus ini ke Polda Jabar untuk diusut. Karena jika dibiarkan akan menimbulkan dampak yang lebih besar, khususnya bagi masyarakat Sunda.


Seperti diketahui ketiga petinggi Sunda Empire, yakni Kiageng Ranggasasana, Nasri Banks, dan Raden Ratnaningrum didakwa telah menyebarkan berita bohong tentang keberadaan Sunda Empire.


Ketiganya disangkakan Pasal 14 ayat (1) Undang-undang nomor 1 tahun 1946 KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP sebagaimana dakwan kesatu, dan dakwaan kedua Pasal 14 ayat (2) Undang-undang nomor 1 tahun 1946 KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP dan ketiga Pasal 15 Undang-undang nomor 1 tahun 1946 KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.(Ahmad Sayuti)