Lama Tak Terdengar, Boy Jati Asmara Jadi Pelatih

Lama Tak Terdengar, Boy Jati Asmara Jadi Pelatih
Foto: Muhammad Ginanjar

INILAH, Bandung - Nama Boy Jati Asmara sudah tak asing bagi Bobotoh. Pasalnya pemain kelahiran 1983 itu pernah membela Persib Bandung pada musim 2004-2007.

Namun, Bobotoh tidak banyak yang tahu bahwa pemain yang beroperasi sebagai penyerang ini kini menjadi pelatih. Pemain dengan ciri khas berkepala plontos ini menangani SSB UNI U-13 dan U-15. 

Boy mengaku belum memiliki niatan untuk menjadi pelatih pro, seperti menangani tim Liga 2 atau Liga 1. Alasannya karena saat ini, dia masih nyaman menangani grassroot. 

"Untuk saat ini, saya masih nyaman di grassroot, masih nyaman ngasuh. Tapi saya juga persiapkan untuk kearah sana (pelatih pro)," kata Boy. 

Terlebih kata Boy, saat ini sudah memiliki lisensi B AFC. Artinya hanya tinggal satu tahapan untuk bisa mendapatkan lisensi A Pro. 

"Saya baru tiga tahun berhenti main bola. Saya masih mau bikin diri saya nyaman dulu dari tekanan, karena ketika saya terjun ke profesional itu pasti ada tekanan. Jadi untuk saat ini saya masih nyaman di UNI saja dulu," bebernya. 

Saat menjadi pemain, Boy memiliki karakter pemain yang unik. Dia kerap tampil ngotot siapapun lawan yang dihadapi. Tak ayal, dia banyak dilirik para klub setelah memutuskan hengkang dari Persib. 

"Saat itu saya memiliki pikiran bahwa saat saya memakai jersey sebuah klub, saya harus mengeluarkan sesuatu untuk penonton. Akhirnya setiap penampilan saya anggap seperti final, rasa tidak mau kalah, rasa ingin selalu menang. Itu membentuk karakter saya yang seperti itu," katanya. 

Dengan karakter tersebut, tidak banyak yang menganggap Boy Jati sebagai bad boy. Istilah pemain yang bengal saat menjalani pertandingan. 

"Saya sebagai pemain di lapangan, dimanapun kita bermain dengan siapapun bermain, semaksimal mungkin kita mengeluarkan kemampuan terbaik kita. Apalagi bermain di Persib dengan logo Kota Bandung. Sebagai asli orang sunda, tidak ada alasan untuk tidak mati-matian di lapangan," tegasnya. (Muhammad Ginanjar)